Hot News :

Tampilkan postingan dengan label Reproduksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Reproduksi. Tampilkan semua postingan

Ketika "Aku" Terkena Hiv/Aids


HIV/AIDS??? Siapa sih yang mau terjangkit penyakit tersebut? Jangankan HIV/AIDS, siapa yang mau terkena serangan jantung, Hepatitis, TBC, Kusta, Kanker, Diabetes….???? Tidak ada bukan? Intinya setiap orang ingin hidupnya berjalan dengan lancar dengan tubuh yang sehat dan terbebas dari berbagai penyakit yang tidak hanya membuat orang akan menderita jasmani. Tapi juga membuat beban pikiran yang justru akan membuat orang lebih cepat mati. Belum lagi berbagai biaya pengobatan yang bagi sebagian besar masyarakat Indonesia mungkin sangat jauh dari kesanggupan, semakin membuat harapan untuk sembuh jauh melayang-layang di awan. Itu bukan klise, ini realita!

HIV/AIDS, bosan membicarakan apa itu HIV/AIDS secara pengertian lengkap dengan berbagai istilah ilmiahnya. Secara garis besar semua orang mungkin telah membaca, mendengar, mengkaji, apa itu HIV/AIDS. Tapi pernahkah terlintas di pikiran kita, ketika aku yang terkena HIV/AIDS, akan seperti apa jadinya? Mungkin sebagian orang akan menjawab, akh..imposible lah… kan aku orang baik-baik. Tak pernah pakai Narkoba apalagi ikutan seks bebas! Jadi tak mungkinlah aku kena penyakit begituan.

Tapi tahukah anda?

PENDERITA HIV/AIDS DI INDONESIA CAPAI DUA RATUS RIBU ORANG???

Semua ini artinya apa? Artinya ada 200.000 penderita HIV/AIDS yang tersebar diantara kita. Itu baru angka real yang berhasil di data. Selebihnya?? Yang jelas jauh lebih besar dari angka tersebut. Dan penderita HIV/AIDS, pada stadium tertentu sama sekali tidak terlihat beda dengan kita. Dan mereka bisa ada dimana saja! Di pasar,mall, sekolah, jalan, rumah sakit, taman, bengkel, bahkan mungkin di rumah kita sendiri. Lalu siapa yang berani bertaruh atas nama takdir, bahwa kita sepenuhnya terlepas dari ancaman HIV/AIDS? Bahkan bila kita adalah seorang suci yang selalu bersemayam dengan doa-doa? Tahukah kita tentang mereka yang terkena HIV/AIDS karena donor darah, dll yang tak ada hubungannya dengan seks bebas maupun Narkoba.

Simak kisah berikut :




Seorang sahabat yang berprofesi sebagai perawat, waktu itu dia bekerja di sebuah RS Swasta. Mendapat tugas merawat seorang pasien HIV/AIDS. Ketika selesai memasang jarum infus ke tangan pasien, tanpa sengaja jarum tersebut menusuk tangannya. Padahal teman ini sudah sedemikian hati-hatinya melakukan pekerjaan tersebut. Of course hal ini membuat teman itu panik bukan main. Syukurlah, sampai saat ini dia terlihat sehat walafiat. But who knows? Bukankah jalannya (masa inkubasi) penyakit ini panjang dan berliku?

Cerita lain, yang kualami sendiri, dan juga menginspirasi aku untuk membuat tulisan ini. Sebagai seorang Bidan yang sehari-hari bertugas di desa dengan peralatan seadanya ( Alhamdullillah dari hari ke hari peralatan tersebut semakin lengkap, seiring dengan semakin meningkatnya perhatian pemerintah terhadap upaya peningkatan kesehatan ) aku kerap di hadapkan kepada sebuah pilihan yang sulit. Pilihan antara menyelamatkan diri sendiri (dalam hal ini proteksi diri terhadap bahaya berbagai penyakit menular terutama Hepatitis dan HIV/AIDS) atau menyelamatkan bayi tak berdosa yang mungkin akan membawa pencerahan bagi keluarga dan bangsa.

Beberapa kali menghadapi kasus kelahiran dimana sang bayi membutuhkan pijat jantung dan pernafasan buatan. Dan beberapa kali pula, Alhamdullillah pertolongan tersebut dapat membuat KU bayi menjadi lebih baik. Masalahnya pernafasan buatan dengan cara mouth to mouth, walaupun dengan dilapisi kassa, sangatlah tidak aman. Karena salah satu cara penularan HIV/AIDS adalah lewat kontak langsung dengan cairan tubuh., melalui luka terbuka atau jaringan lunak yang terbuka, atau kontak dengan mukosa di mulut, mata, atau hidung. Dan bayi yang baru lahir tentu saja masih melekat dengan cairan tubuh sang ibu, air ketuban (walaupun telah dikeringkan).

Dan yang membuat HIV/AIDS terasa begitu dekat adalah, riwayat beberapa pasien tersebut. Ada dari mereka yang doyan berganti pasangan. Adapula suaminya yang suka jajan! Walaupun dengan segenap kehati-hatian di setiap tindakan dalam pekerjaanku, tetap saja HIV/AIDS menjadi salah satu prioritas yang wajib didalami, dibahas, pun dimengerti.

Siapa yang ingin mengidap HIV/AIDS? Tak ada. Tapi yang harus dipahami adalah siapapun bisa terjangkit penyakit tersebut. HIV/AIDS bukan penyakit kutukan yang hanya diperuntukkan buat mereka-mereka yang suka berbuat dosa. Bergelimangan zina dan bermandikan barang haram. Terlepas dari adanya kelompok tertentu yang memang mempunyai faktor resiko lebih besar. Siapapun, dimanapun, bisa saja tertular penyakit tesebut. Dan pernahkah terpikir, salah satu diantara 200.000 penderita HIV/AIDS adalah seseorang yang biasa bertemu kita di pasar, bersua ketika mengantar anak ke sekolah, atau sekedar berpapasan di jalan. Seseorang itu bisa saja kenalan, kerabat, keluarga, atau bahkan diri kita sendiri atau mungkin memang bukan siapa-siapa.

Lalu jika demikian, ketika aku(diri kita sendiri) yang terkena HIV/AIDS, akankah HIV/AIDS hanya akan tetap menjadi milik mereka segelintir orang yang peduli, milik pemerintah dengan dinas kesehatannya dengan rumah-rumah sakitnya, dengan dinas sosialnya. Akankah HIV/AIDS hanya akan kita lihat dan amati sebagai slogan-slogan yang banyak terpampang dan berbagai wacana yang kita tonton sepenggal lalu saluran televisi kita ganti ke berita gosip?

Mungkin tidak lagi. Ketika aku (diri kita sendiri) yang terkena HIV/AIDS mungkin aku akan tepana, terduduk lama tak percaya, mungkin menangis, menyesali, atau memandang dunia lebih indah agar semua bisa dilalui dengan lebih mudah (yang terakhir ini kemungkinan terakhir yang mungkin terjadi setelah melewati proses yang panjang).

Entahlah. Aku juga tak mau sok memahami sesuatu yang pasti sangat sulit buat dijalani.




Tapi percayalah, tak seorangpun yang ingin tertular HIV/AIDS. Tak mereka yang memang jauh dari kelompok beresiko, tidak juga mereka yang memang akrab dengan keadaan yang membawa mereka menjadi dekat dengan kemungkinan tertular HIV/AIDS.

Aku bukan seorang aktivis yang membawa misi memberantas HIV/AIDS. Bukan juga utusan pemerintah untuk menyampaikan program penanggulangan HIV/AIDS. Aku hanya penulis dan manusia biasa yang menyadari dan ingin berbagi tentang betapa HIV/AIDS ternyata amat dekat dengan kehidupan kita. Mungkin saja ada salah satu dari pembaca (cukup satu saja, tak usah banyak-banyak) yang kemudian tergerak dan lebih peduli terhadap masalah HIV/AIDS. Dan semoga banyak dari kita yang lebih berempati terhadap para penderita HIV/AIDS, karena… siapapun bisa terkena HIV/AIDS!!!

Perlu diketahui…

Acquired Immunodeficiency Syndrome atau Acquired Immune Deficiency Syndrome (disingkat AIDS) adalah sekumpulan gejala dan infeksi (atau: sindrom) yang timbul karena rusaknya sistem kekebalan tubuh manusia akibat infeksi virus HIV;[1] atau infeksi virus-virus lain yang mirip yang menyerang spesies lainnya (SIV, FIV, dan lain-lain).

Virusnya sendiri bernama Human Immunodeficiency Virus (atau disingkat HIV) yaitu virus yang memperlemah kekebalan pada tubuh manusia. Orang yang terkena virus ini akan menjadi rentan terhadap infeksi oportunistik ataupun mudah terkena tumor. Meskipun penanganan yang telah ada dapat memperlambat laju perkembangan virus, namun penyakit ini belum benar-benar bisa disembuhkan.

HIV dan virus-virus sejenisnya umumnya ditularkan melalui kontak langsung antara lapisan kulit dalam (membran mukosa) atau aliran darah, dengan cairan tubuh yang mengandung HIV, seperti darah, air mani, cairan vagina, cairan preseminal, dan air susu ibu.[2][3] Penularan dapat terjadi melalui hubungan intim (vaginal, anal, ataupun oral), transfusi darah, jarum suntik yang terkontaminasi, antara ibu dan bayi selama kehamilan, bersalin, atau menyusui, serta bentuk kontak lainnya dengan cairan-cairan tubuh tersebut.

Para ilmuwan umumnya berpendapat bahwa AIDS berasal dari Afrika Sub-Sahara.[4] Kini AIDS telah menjadi wabah penyakit. AIDS diperkiraan telah menginfeksi 38,6 juta orang di seluruh dunia.[5] Pada Januari 2006, UNAIDS bekerja sama dengan WHO memperkirakan bahwa AIDS telah menyebabkan kematian lebih dari 25 juta orang sejak pertama kali diakui pada tanggal 5 Juni 1981. Dengan demikian, penyakit ini merupakan salah satu wabah paling mematikan dalam sejarah. AIDS diklaim telah menyebabkan kematian sebanyak 2,4 hingga 3,3 juta jiwa pada tahun 2005 saja, dan lebih dari 570.000 jiwa di antaranya adalah anak-anak.[5] Sepertiga dari jumlah kematian ini terjadi di Afrika Sub-Sahara, sehingga memperlambat pertumbuhan ekonomi dan menghancurkan kekuatan sumber daya manusia di sana. Perawatan antiretrovirus sesungguhnya dapat mengurangi tingkat kematian dan parahnya infeksi HIV, namun akses terhadap pengobatan tersebut tidak tersedia di semua negara.[6]

Hukuman sosial bagi penderita HIV/AIDS, umumnya lebih berat bila dibandingkan dengan penderita penyakit mematikan lainnya. Terkadang hukuman sosial tersebut juga turut tertimpakan kepada petugas kesehatan atau sukarelawan, yang terlibat dalam merawat orang yang hidup dengan HIV/AIDS (ODHA).

(http://id.wikipedia.org/wiki/AIDS)

,Klik saja Banner yang ada lalu isi Formulir Pendaftarannya.


Mesin Penghasil Uang



Web Hosting


Web Hosting


Mesin Penghasil Uang



KPA Cirebon Sosialisai Bahaya AIDS di terminal


CIREBON : Komisi Penanggulanan AIDS (KPA) Kota Cirebon melakukan sosialisasi bahaya AIDS di sejumlah lokasi mangkal pekerja seks komersil Kota Cirebon, bertepatan dengan peringatan hari AIDS.

Di terminal Bus Harjamukti Kota Cirebon, sejumlah petugas KPA Kota Cirebon dan beberapa organisasi masyarakat membagikan stiker dan brosur tentang bahaya AIDS kepada para pekerja seks, pedagang, tukang becak, dan pengguna jalan yang melintas jalan tersebut.

Sekretaris KPA Kabupaten Cirebon, Denny Agustin mengatakan kegiatan peringatan hari AIDS sedunia ini digelar secara serentak di empat titik ruas jalan Kabupaten Cirebon yaitu di Kecamatan Sumber, Palimanan, Gunung Jati dan Mundu.

"Kami menggerakkan sekitar 100 orang lebih yang berasal dari beberapa elemen masyarakat yang peduli terhadap bahaya AIDS yang kami beri nama Komunitas Serpihan Mutiara," katanya.

Denny mengatakan penyebab tertinggi penularan penyakit HIV/AIDS di Cirebon adalah akibat penggunaan jarum suntik yang tidak steril dan bergantian serta hubungan seks bebas.

Berdasarkan hasil survey, lanjut Denny jumlah penderita HIV/AIDS di Kabupaten Cirebon tahun ini adalah 493 orang atau bertambah 23 orang dibanding tahun sebelumnya yaitu 470 orang. (BC-11)

Rahasia"Virgin" Ketika Keperawanan Dipertanyakan

"Virgin" Ketika Keperawanan Dipertanyakan






(Renungan Hari AIDS Sedunia)
imageKebetulan atau bukan, menjelang peringatan Hari AIDS Sedunia, pada 1 Desember, di bioskop di kota-kota besar telah diputar sebuah film yang isinya kontroversial: Virgin-Ketika Keperawanan Dipertanyakan (VKKD). Tema keperawanan memang sering mengundang keingintahuan kalangan remaja. Dalam penyuluhan mewaspadai bahaya AIDS bagi remaja, misalnya, pertanyaan seputar keperawanan lazim muncul. VKKD yang dibuat dengan menargetkan remaja sebagai penontonnya sepintas dari judulnya ingin memenuhi keingintahuan remaja.

Pemutaran awal film yang berdekatan dengan peringatan Hari AIDS bisa memunculkan kesan bahwa ada kaitan antara isi film tersebut dan isi pesan pada peringatan Hari AIDS. Bahaya AIDS memerlukan penjelasan dan contoh konkret agar mudah dipahami masyarakat, khususnya remaja. VKKD sengaja mengesankan diri sebagai contoh buruk pergaulan yang harus dihindari remaja jika tidak ingin terhindar dari AIDS. Dengan strategi ini VKKD mendapat tempat berlindung yang aman jika ada kecaman publik terhadap peredarannya.

Padahal isi filmnya sendiri jauh untuk bisa disebut media pembelajaran bagi keingintahuan remaja. Isinya bukanlah berisi pesan-pesan untuk mewaspadai bahaya AIDS, namun sebaliknya mengampanyekan secara vulgar pergaulan bebas dan hedonisme bagi remaja. Praktis tidak ada ada pesan yang berisi bahaya pergaulan bebas dan hedonisme bagi remaja. Alih-alih memberi pendidikan seks dengan benar, film tersebut mengkomodifikasi tema-tema seks yang biasanya ingin diketahui remaja. Dalam film itu, pertanyaan remaja tentang keperawanan bukan hanya untuk memenuhi rasa ingin tahu, tetapi juga untuk menikmati pengalaman baru dengan mempraktikkan langsung jawabannya. Masalahnya, jawaban yang diperoleh dari film tersebut berupa pengetahuan yang menyesatkan-jawaban yang dibuat adalah untuk mendukung motif mempertanyakan keperawanan, yakni pembenar hasrat menikmati pergaulan bebas. Pesan tersiratnya, untuk bisa menikmati pergaulan saat ini remaja tidak perlu mencemaskan keperawanan. Keperawanan, yang bagi masyarakat kita masih disakralkan, citra, dan maknanya hendak didekonstruksi.



Adsense Indonesia

Di sisi lain, mungkin karena belum beredar luas, belum terdengar reaksi masyarakat terhadap VKKD seperti dalam kasus Buruan Cium Gue (BCG). Dan yang mengherankan, film tersebut berhasil diputar di beberapa kota; berbeda dengan BCG yang akhirnya dihentikan peredarannya sebelum sempat diputar di bioskop. Padahal, dibandingkan BCG, VKKD lebih vulgar mempertontonkan atau mencontohkan pergaulan bebas dan hedonisme bagi remaja. Dalam salah satu adegan diceritakan aktivitas seks komersial yang secara sadar dipilih remaja (putri), sebagai bagian dari menikmati pengalaman mempertanyakan keperawanan.

Alih-alih mengajarkan pendidikan (seks), VKKD mengajarkan praktik seks bebas bagi remaja. Remaja dikenalkan dalam ruang hiperealitas, ruang pemainan citra yang sebetulnya berbeda-bahkan tidak ada-dalam kehidupan nyata. Fantasi dan permainan citra di film dikenalkan untuk memenuhi keingintahuan remaja tentang pengetahuan seks. Baik VKKD maupun BCG memahami betul perilaku remaja yang selanjutnya mengkomodifikasikannya ke dalam ruang hasrat-libido. Keduanya merupakan perpanjangan sekaligus penguat sosialisasi kebebasan gaya hidup atau hedonisme di televisi.

Sebagai tayangan hiburan, VKKD sendiri miskin estetika apalagi pesan pendidikan. Bukan karya bercitra seni jika VKKD lebih mendekati komodifikasi dan eksploitasi kepolosan perilaku remaja. Bukan sebagai ekspresi seni jika VKKD ternyata menghadirkan ruang simulasi seks bagi remaja. Saat yang sama VKKD juga mengabaikan nilai pendidikan. Jika memang dimaksudkan bermuatan pendidikan, tentu pengetahuan seks dalam adegan-adegannya tidak disampaikan secara vulgar dan provokatif, apalagi dengan contoh-contoh yang berlawanan dengan norma di masyarakat. Lewat visualisasi vulgar, VKKD memperlihatkan pamer tato di pinggul, tarian erotis di pesta ulang tahun, dan adegan video casting sabun mandi.




Komodifikasi tubuh yang mengarah kepada fetisisme (pemujaan) tubuh ini bukanlah pendidikan seks, melainkan eksploitasi dan manipulasi obyek seksual remaja. Adegan-adegan tersebut mengajak remaja untuk mengikuti komodifikasi tubuh dalam ruang simulasi hasrat-libido. Atas nama kemajuan, modernisasi, gaya hidup trendi, remaja dinarsiskan. Dalam kondisi seperti ini batasan norma bahkan agama pun dipandang tidak ada. Terhadap nilai atau norma yang disakralkan masyarakat (keperawanan misalnya), VKKD mengajak remaja untuk mengkritisnya.

Selain mengekspresikan fetisisme tubuh, VKKD sarat dengan upaya mendekonstruksi nilai atau norma yang ada di masyarakat. Nilai yang oleh masyarakat masih dianggap amoral, asusila, abnormal didekonstruksi menjadi nilai-nilai baru yang mengekspresikan kebebasan. Yang mempertahankan keperawanan berada pada posisi inferior-konservatif dan tradisional; yang melepas keperawanan, dengan eksperimen dan pengalaman seksnya, berarti mengikuti perkembangan zaman. Lebih dari sebagai hiburan, VKKD mempromosikan kehidupan alternatif atas nilai atau norma yang mapan di tengah masyarakat yang dianggapnya tradisional.

Dengan kenyatan di atas, apa yang bisa dilakukan masyarakat dalam membentengi moral remaja? Berkaca pada beberapa pengalaman sebelumnya, reaksi masyarakat menentang tayangan yang mengeksploitasi tubuh justru memperoleh penentangan balik. Tatkala Aa Gym menggalang dukungan untuk menghentikan peredaran BCG, dia justru diserang balik kalangan yang membela film ini. Kontroversi yang berkembang di publik justru turut melambungkan popularitas film dan menguatkan keingintahuan remaja. Bagaimana dengan VKKD, akankah dicegah dengan pendekatan sebagaiman pada BCG?

Keingintahuan remaja pada tema seks memang normal, sesuai dengan perkembangan psikologinya. Pelarangan melalui gerakan massa, apalagi reaktif, hasilnya bisa kontraproduktif. Ketika VKKD dilarang, remaja justru bisa tertarik untuk menontonnya. Saya belum tahu apakah belum bersuaranya masyarakat-termasuk Aa'Gym yang vokal ketika menentang BCG-karena mengubah strategi pendekatannya. Yang prioritas dalam jangka pendek ini menurut saya adalah membatasi peredaran VKKD. Meski kecolongan karena telah diputar di beberapa kota besar, namun masih lebih banyak lagi remaja di luar kota-kota besar ini yang belum mengetahui VKKD. Agar tidak memunculkan keingintahuan remaja lebih luas, saya setuju jika masyarakat menahan diri (baca: berhati-hati) dalam bereaksi menentang peredaran VKKD. Namun menahan dirinya ini harus disertai membangun jaringan lebih luas dengan pihak-pihak yang seaspirasi untuk menguatkan lobi.

Lobi pertama adalah kepada media massa. Media massa mampu mempublikasikan atau mempopulerkan tayangan sejenis VKKD, meskipun masyarakat menahan diri apalagi jika melakukan tindakan demonstratif. Media mampu membentuk opini yang berkebalikan dengan aspirasi mayoritas masyarakat-seperti pada kasus Aa Gym dan BCG. Untuk itu, yang pertama kali dilakukan adalah menekan media agar tidak mempublikasikannya. Inilah pentingnya jaringan yang kuat agar mampu mempengaruhi media. Kesolidan gerakan moral dari masyarakat dalam melobi dan membentuk opini di masyarakat (terlepas media mendukungnya ataupun tidak) merupakan pekerjaan jangka panjangnya.

Baik VKKD maupun BCG bukanlah kasus terakhir; akan tetap bermunculan film-film sejenis, disebabkan fenomena ini merupakan kelanjutan gaya hidup hedonisme yang masih melanda masyarakat kita. Selagi hedonisme belum berhenti, fetisisme tubuh akan tetap ada. Dan film yang menyajikan pergaulan bebas merupakan media untuk mengekspresikan hasrat-libido para fetisis. (RioL)




Tips jitu Mengatasi Kista Ovarium

Tips Praktis Mengatasi Kista Ovarium

ovarium-1-casey-kotasApa itu kista ovarium? Nah, artikel ini akan membahas tentang kista ovarium yang meliputi: definisi, etiologi (penyebab), tipe kista normal, tipe kista abnormal, manifestasi klinis, penegakan diagnosis, pemeriksaan laboratorium, dan penatalaksanaan. Selamat membaca dan memahami… .

Definisi
Kista berarti kantung yang berisi cairan. Kista ovarium (atau kista indung telur) berarti kantung berisi cairan, normalnya berukuran kecil, yang terletak di indung telur (ovarium).

Kista indung telur dapat terbentuk kapan saja, pada masa pubertas sampai menopause, juga selama masa kehamilan.

Etiologi (Penyebab)
Kista ovarium disebabkan oleh gangguan (pembentukan) hormon pada hipotalamus, hipofisis, dan ovarium.

Tipe Kista Normal
Kista Fungsional
Ini merupakan jenis kista ovarium yang paling banyak ditemukan. Kista ini berasal dari sel telur dan korpus luteum, terjadi bersamaan dengan siklus menstruasi yang normal.

Kista fungsional akan tumbuh setiap bulan dan akan pecah pada masa subur, untuk melepaskan sel telur yang pada waktunya siap dibuahi oleh sperma. Setelah pecah, kista fungsional akan menjadi kista folikuler dan akan hilang saat menstruasi.

Kista fungsional terdiri dari: kista folikel dan kista korpus luteum. Keduanya tidak mengganggu, tidak menimbulkan gejala dan dapat menghilang sendiri dalam waktu 6-8 minggu.

Tipe Kista Abnormal
Maksud kata “abnormal” disini adalah tidak normal, tidak umum, atau tidak biasanya (ada, timbul, muncul, atau terjadi). Semua tipe atau bentuk kista -selain kista fungsional- adalah kista abnormal, misalnya:
1. Cystadenoma
Merupakan kista yang berasal dari bagian luar sel indung telur. Biasanya bersifat jinak, namun dapat membesar dan dapat menimbulkan nyeri.

2. Kista coklat (endometrioma)
Merupakan endometrium yang tidak pada tempatnya. Disebut kista coklat karena berisi timbunan darah yang berwarna coklat kehitaman.

3. Kista dermoid
Merupakan kista yang yang berisi berbagai jenis bagian tubuh seperti kulit, kuku, rambut, gigi dan lemak. Kista ini dapat ditemukan di kedua bagian indung telur. Biasanya berukuran kecil dan tidak menimbulkan gejala.

4. Kista endometriosis
Merupakan kista yang terjadi karena ada bagian endometrium yang berada di luar rahim. Kista ini berkembang bersamaan dengan tumbuhnya lapisan endometrium setiap bulan sehingga menimbulkan nyeri hebat, terutama saat menstruasi dan infertilitas.

5. Kista hemorrhage
Merupakan kista fungsional yang disertai perdarahan sehingga menimbulkan nyeri di salah satu sisi perut bagian bawah.

6. Kista lutein
Merupakan kista yang sering terjadi saat kehamilan. Beberapa tipe kista lutein antara lain:

a. Kista granulosa lutein
Merupakan kista yang terjadi di dalam korpus luteum ovarium yang fungsional. Kista yang timbul pada permulaan kehamilan ini dapat membesar akibat dari penimbunan darah yang berlebihan saat menstruasi dan bukan akibat dari tumor. Diameternya yang mencapai 5-6 cm menyebabkan rasa tidak enak di daerah panggul. Jika pecah, akan terjadi perdarahan di rongga perut.

Pada wanita yang tidak hamil, kista ini menyebabkan menstruasi terlambat, diikuti perdarahan yang tidak teratur.

b. Kista theca lutein
Merupakan kista yang berisi cairan bening dan berwarna seperti jerami. Timbulnya kista ini berkaitan dengan tumor ovarium dan terapi hormon.

7. Kista polikistik ovarium
Merupakan kista yang terjadi karena kista tidak dapat pecah dan melepaskan sel telur secara kontinyu. Biasanya terjadi setiap bulan. Ovarium akan membesar karena bertumpuknya kista ini. Untuk kista polikistik ovarium yang menetap (persisten), operasi harus dilakukan untuk mengangkat kista tersebut agar tidak menimbulkan gangguan dan rasa sakit.

Kista ovarium ada yang bersifat jinak dan ganas (kanker). Biasanya kista yang berukuran kecil bersifat jinak. Kista ovarium sering ditemukan secara tidak sengaja pada pemeriksaan rutin.

Manifestasi Klinis
Manifestasi klinis kista ovarium antara lain:
1. Sering tanpa gejala.
2. Nyeri saat menstruasi.
3. Nyeri di perut bagian bawah.
4. Nyeri pada saat berhubungan badan.
5. Nyeri pada punggung terkadang menjalar sampai ke kaki.
6. Terkadang disertai nyeri saat buang air kecil dan/atau buang air besar.
7. Siklus menstruasi tidak teratur; bisa juga jumlah darah yang keluar banyak.

Adapun manifestasi klinis kanker ovarium antara lain:
1. Perubahan menstruasi.
2. Rasa sakit atau sensasi nyeri saat bersenggama (dyspareunia).
3. Gangguan pencernaan yang menetap, seperti: kembung, mual.
4. Perubahan kebiasaan buang air besar, contoh: sukar buang air besar (= sembelit, konstipasi, obstipasi)
5. Perubahan berkemih, misalnya: sering kencing.
6. Perut membesar, salah satu cirinya adalah celana terasa sesak.
7. Kehilangan selera makan atau rasa cepat kenyang (perut terasa penuh).
8. Rasa mudah capek atau rasa selalu kurang tenaga.
9. Rasa nyeri pada (tulang) punggung bawah (Low back pain).

Penegakan Diagnosis
Diagnosis kista ovarium ditegakkan melalui pemeriksaan dengan ultrasonografi atau USG (abdomen atau transvaginal), kolposkopi screening, dan pemeriksaan darah (tumor marker atau petanda tumor).

Pemeriksaan Laboratorium
Di dalam praktek, jika diperlukan dokter kandungan akan menganjurkan untuk melakukan pemeriksaan sekret (yang meliputi: Trichomonas, Candida/jamur, bakteri batang, bakteri kokus, epitel, lekosit, eritrosit, epitel, dan pH) dan hematologi, misalnya: Hb (Hemoglobin).

Penatalaksanaan
1. Observasi
Jika kista tidak menimbulkan gejala, maka cukup dimonitor (dipantau) selama 1-2 bulan, karena kista fungsional akan menghilang dengan sendirinya setelah satu atau dua siklus haid. Tindakan ini diambil jika tidak curiga ganas (kanker).

2. Operasi
Jika kista membesar, maka dilakukan tindakan pembedahan, yakni dilakukan pengambilan kista dengan tindakan laparoskopi atau laparotomi. Biasanya untuk laparoskopi Anda diperbolehkan pulang pada hari ke-3 atau ke-4, sedangkan untuk laparotomi Anda diperbolehkan pulang pada hari ke-8 atau ke-9.

3. Terapi Herbal
Berikut ini beberapa contoh resep/ramuan tumbuhan obat untuk mengatasi kista ovarium menurut Prof. H.M. Hembing Wijayakusuma:

a. 60 gram temu putih segar + 15 gram sambiloto kering atau 30 gram yang segar, direbus dengan 600 cc air hingga tersisa 300 cc, disaring, airnya diminum dua kali sehari, setiap kali minum 150 cc.

b. 30 gram daun dewa segar + 50 gram temu mangga + 5 gram daging buah mahkota dewa kering, direbus dengan 800 cc air hingga tersisa 400 cc, disaring, airnya diminum untuk dua kali sehari, setiap kali minum 200 cc.

c. 60 gram benalu yang hidup di pohon teh + 30 gram rumput mutiara atau rumput lidah ular kembang putih, direbus dengan 800 cc air hingga tersisa 400 cc, disaring, airnya diminum untuk dua kali sehari, setiap kali minum 200 cc.

Catatan: rumput lidah ular kembang putih kering dapat dibeli di toko obat tionghoa dengan nama bai hua she she cao. Untuk perebusan gunakanlah periuk tanah, panci enamel, atau panci kaca. Pilihlah salah satu resep di atas, minumlah secara teratur, dan tetap berkonsultasi ke dokter untuk memantau/ mengevaluasi hasil terapi.


sumber

Perawatan dan Pengobatan Untuk HIV/AIDS

Adakah obat untuk HIV?

Tidak. Tidak ada obat yang dapat sepenuhnya menyembuhkan HIV/AIDS. Perkembangan penyakit dapat diperlambat namun tidak dapat dihentikan sepenuhnya. Kombinasi yang tepat antara berbagai obat-obatan antiretroviral dapat memperlambat kerusakan yang diakibatkan oleh HIV pada sistem kekebalan tubuh dan menunda awal terjadinya AIDS.

Jenis pengobatan dan perawatan apakah yang tersedia?

Pengobatan dan perawatan yang ada terdiri dari sejumlah unsur yang berbeda, yang meliputi konseling dan tes mandiri (VCT), dukungan bagi pencegahan penularan HIV, konseling tindak lanjut, saran-saran mengenai makanan dan gizi, pengobatan IMS, pengelolaan efek nutrisi, pencegahan dan perawatan infeksi oportunistik (IOS), dan pemberian obat-obatan antiretroviral.

Apakah obat anti retroviral itu?

Obat antiretroviral digunakan dalam pengobatan infeksi HIV. Obat-obatan ini bekerja melawan infeksi itu sendiri dengan cara memperlambat reproduksi HIV dalam tubuh.

Bagaimana cara kerja obat antiretroviral?

Dalam suatu sel yang terinfeksi, HIV mereplikasi diri, yang kemudian dapat menginfeksi sel-sel lain dalam tubuh yang masih sehat. Semakin banyak sel yang diinfeksi HIV, semakin besar dampak yang ditimbulkannya terhadap kekebalan tubuh (immunodeficiency). Obat-obatan antiretroviral memperlambat replikasi sel-sel, yang berarti memperlambat penyebaran virus dalam tubuh, dengan mengganggu proses replikasi dengan berbagai cara.
  • Penghambat Nucleoside Reverse Transcriptase (NRTI)


HIV memerlukan enzim yang disebut reverse transcriptase untuk mereplikasi diri. Jenis obat-obatan ini memperlambat kerja reverse transcriptase dengan cara mencegah proses pengembangbiakkan materi genetik virus tersebut.

  • Penghambat Non-Nucleoside Reverse Transcriptase (NNRTI)


Jenis obat-obatan ini juga mengacaukan replikasi HIV dengan mengikat enzim reverse transcriptase itu sendiri. Hal ini mencegah agar enzim ini tidak bekerja dan menghentikan produksi partikel virus baru dalam sel-sel yang terinfeksi.

  • Penghambat Protease (PI)


Protease merupakan enzim pencernaan yang diperlukan dalam replikasi HIV untuk membentuk partikel-partikel virus baru. Protease memecah belah protein dan enzim dalam sel-sel yang terinfeksi, yang kemudian dapat menginfeksi sel yang lain. Penghambat protease mencegah pemecah-belahan protein dan karenanya memperlambat produksi partikel virus baru.

Obat-obatan lain yang dapat menghambat siklus virus pada tahapan yang lain (seperti masuknya virus dan fusi dengan sel yang belum terinfeksi) saat ini sedang diujikan dalam percobaan-percobaan klinis.

Apakah obat antiretroviral efektif?

Penggunaan ARV dalam kombinasi tiga atau lebih obat-obatan menunjukkan dapat menurunkan jumlah kematian dan penyakit yang terkait dengan AIDS secara dramatis. Walau bukan solusi penyembuhan, kombinasi terapi ARV dapat memperpanjang hidup orang penyandang HIV-positif, membuat mereka lebih sehat, dan hidup lebih produktif dengan mengurangi varaemia (jumlah HIV dalam darah) dan meningkatkan jumlah sel-sel CD4+ (sel-sel darah putih yang penting bagi sistem kekebalan tubuh).

Supaya pengobatan antiretroviral dapat efektif untuk waktu yang lama, jenis obat-obatan antiretroviral yang berbeda perlu dikombinasikan. Inilah yang disebut sebagai terapi kombinasi. Istilah 'Highly Active Anti-Retroviral Therapy' (HAART) digunakan untuk menyebut kombinasi dari tiga atau lebih obat anti HIV.

Bila hanya satu obat digunakan sendirian, diketahui bahwa dalam beberapa waktu, perubahan dalam virus menjadikannya mampu mengembangkan resistensi terhadap obat tersebut. Obat tersebut akhirnya menjadi tidak efektif lagi dan virus mulai bereproduksi kembali dalam jumlah yang sama seperti sebelum dilakukan pengobatan. Bila dua atau lebih obat-obatan digunakan bersamaan, tingkat perkembangan resistensi dapat dikurangi secara substansial. Biasanya, kombinasi tersebut terdiri atas dua obat yang bekerja menghambat reverse transcriptase enzyme dan satu obat penghambat protease. Obat-obatan anti retroviral hendaknya hanya diminum di bawah pengawasan medis.

Mengapa ARV tidak siap tersedia?

Di negara-negara berkembang, hanya sekitar 5% dari mereka yang membutuhkan dapat memperoleh pengobatan antiretroviral, sementara di negera-negara berpendapatan tinggi akses tersebut hampir universal. Masalahnya adalah harga obat-obatan yang tinggi, infrastruktur perawatan kesehatan yang tidak memadai, dan kurangnya sumber pembiayaan, menghalangi penggunaan perawatan kombinasi ARV secara meluas di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah.

Sebanyak 12 obat-obatan ARV telah diikutsertakan dalam Daftar Obat-obatan Esensial WHO (WHO Essential Medicines List). Diikutsertakannya ARV dalam Daftar Obat-obatan Esensial WHO akan mendorong pemerintah di negara-negara dengan epidemi tinggi untuk lebih memperluas pendistribusian obat-obatan esensial tersebut kepada mereka yang memerlukannya. Sementara itu, meningkatnya komitmen ekonomi dan politik di tahun-tahun terakhir ini, yang distimulir oleh orang yang hidup dengan HIV/AIDS (ODHA), masyarakat sipil dan mitra lainnya, telah membuka ruang bagi perluasan akses terhadap terapi HIV secara luar biasa.

Perawatan jenis apakah yang tersedia ketika akses ARV tidak tersedia?

Unsur-unsur perawatan lain dapat membantu mempertahankan kualitas hidup tinggi saat ARV tidak tersedia. Unsur-unsur ini meliputi nutrisi yang memadai, konseling, pencegahan dan pengobatan infeksi oportunistik, dan menjaga kesehatan pada umumnya.

Apakah PEP itu?

Perawatan Pencegahan Pasca Pajanan terdiri dari pengobatan, tes laboratorium dan konseling. Pengobatan PEP harus dimulai dalam hitungan jam dari saat kemungkinan pajanan HIV dan harus berlanjut selama sekitar empat minggu. Pengobatan PEP belum terbukti dapat mencegah penularan HIV. Kendatipun demikian, kajian-kajian penelitian menunjukkan bahwa bila pengobatan dapat dilaksanakan lebih cepat setelah kemungkinan pajanan HIV (idealnya dalam waktu dua jam dan tak lebih dari 72 jam setelah pajanan), pengobatan tersebut mungkin bermanfaat dalam mencegah infeksi HIV.

KIat mencegah penularan HIV/AIDS

Bagaimana infeksi HIV dapat dicegah?

Penularan HIV secara seksual dapat dicegah dengan:

  • berpantang seks
  • hubungan monogami antara pasangan yang tidak terinfeksi
  • seks non-penetratif
  • penggunaan kondom pria atau kondom wanita secara konsisten dan benar


Cara tambahan yang lain untuk menghindari infeksi:

  • Bila anda seorang pengguna narkoba suntikan, selalu gunakan jarum suntik atau semprit baru yang sekali pakai atau jarum yang secara tepat disterilkan sebelum digunakan kembali.
  • Pastikan bahwa darah dan produk darah telah melalui tes HIV dan standar standar keamanan darah dilaksanakan.


Apakah "seks aman" itu?

Tak ada seks yang 100% aman. Seks yang lebih aman menyangkut upaya-upaya kewaspadaan untuk menurunkan potensi penularan dan terkena infeksi menular seksual (IMS), termasuk HIV, saat melakukan hubungan seks. Menggunakan kondom secara tepat dan konsisten selama melakukan hubungan seks dianggap sebagai seks yang lebih aman.

Seberapa efektifkah kondom dalam mencegah HIV?

Kondom yang kualitasnya terjamin adalah satu-satunya produk yang saat ini tersedia untuk melindungi pemakai dari infeksi seksual karena HIV dan infeksi menular seksual (IMS) lainnya. Ketika digunakan secara tepat, kondom terbukti menjadi alat yang efektif untuk mencegah infeksi HIV di kalangan perempuan dan laki-laki.

Walaupun begitu, tidak ada metode perlindungan yang 100% efektif, dan penggunaan kondom tidak dapat menjamin secara mutlak perlindungan terhadap segala infeksi menular seksual (IMS). Agar perlindungan kondom efektif, kondom tersebut harus digunakan secara benar dan konsisten. Penggunaan yang kurang tepat dapat mengakibatkan lepasnya atau bocornya kondom, sehingga menjadi tidak efektif.

Bagaimana cara memasang kondom pria?

  • Kondom berpelumas lebih sedikit kemungkinan untuk robek saat dikenakan atau digunakan. Pelumas berbasis minyak, seperti vaselin, hendaknya tidak digunakan karena dapat merusak kondom.
  • Hanya buka bungkusan berisi kondom saat akan digunakan, kalau tidak kondom akan mengering. Berhati-hatilah agar kondom tidak rusak atau sobek ketika anda membuka bungkusnya. Bila kondom ternyata sobek, buang kondom tersebut dan buka bungkusan yang baru.
  • Kondom dikemas tergulung dalam bentuk lingkaran gepeng. Pasanglah kondom yang tergulung itu di ujung penis. Peganglah ujung kondom di antara ibu jari dan jari telunjuk untuk menekan udara supaya keluar dari ujung kondom. Tindakan ini akan menyisakan ruang untuk tempat cairan semen setelah terjadinya ejakulasi. Tetap pegang ujung kondom dengan satu tangan. Dengan tangan yang satunya, gulunglah sepanjang penis yang berereksi ke arah rambut kemaluan. Jika pria pemakai tidak disunat, ia harus menarik kulup ke arah pangkal penis sebelum menggulung kondom.
  • Bila kondom tidak cukup berpelumas, pelumas berbasis air (seperti silikon, gliserin, atau K-Y jelly) dapat ditambahkan. Bahkan air ludah dapat berfungsi dengan baik sebagai pelumas. Pelumas yang terbuat dari minyak-minyak goreng atau lemak, minyak bayi atau minyak mineral, jeli berbasis bahan turunan minyak bumi seperti vaselin dan olesan lainnya - hendaknya jangan digunakan karena dapat merusak kondom.
  • Setelah berhubungan seks, kondom perlu segera dilepaskan secara benar.
  • Segera setelah si pria pemakai mengalami ejakulasi, ia harus menahan pada ujung dekat pangkal penis untuk memastikan agar kondom tidak terlepas.
  • Kemudian, si pria harus menarik keluar penisnya selagi masih dalam keadaan ereksi.
  • Ketika penis mengecil kembali, lepaskan kondom dan buanglah kondom pada tempat yang tepat. Jangan membuang kondom ke dalam toilet dan menyentornya dengan air.
  • Bila anda akan melakukan hubungan seks lagi, gunakan kondom baru, dan ulangi proses di atas dari awal.
    Apakah kondom perempuan?
    Kondom perempuan merupakan metode kontrasepsi pertama dan satu-satunya yang dikendalikan oleh perempuan. Kondom perempuan adalah sarung yang terbuat dari bahan polyuretan yang kuat, lembut, dan tembus pandang yang dimasukkan ke dalam vagina sebelum melakukan hubungan seks. Kondom tersebut sepenuhnya mengikuti bentuk vagina dan karenanya dengan penggunaan yang benar dan konsisten, ia akan memberikan perlindungan dari kemungkinan hamil sekaligus infeksi menular seksual (IMS). Kondom perempuan tidak memiliki risiko dan efek samping, dan tidak memerlukan resep atau intervensi dari staf perawatan kesehatan.

    Bagaimana cara memasang kondom perempuan?
  • Ambil kondom dari dalam bungkus pelindungnya. Bila dipandang perlu, tambahkan pelumas ekstra pada cincin-cincin kondom bagian dalam dan luar.
  • Untuk memasukkan kondom, berjongkoklah, duduk dengan kedua lutut terbuka lebar, atau berdirilah dengan satu kaki bertumpu di atas bangku kecil atau kursi rendah. Pegang kondom dengan bagian ujung yang terbuka menghadap ke arah bawah. Sambil memegang cincin atas "kantung" (ujung kondom yang tertutup), pencet cincin diantara ibu jari dan jari tengah.
  • Kemudian letakkan jari telunjuk di antara ibu jari dan jari tengah. Dengan jari-jari dalam posisi tersebut, jagalah agar bagian ujung kondom tetap terjepit dalam bentuk lonjong pipih. Gunakan tangan yang satunya untuk membuka bibir vagina dan masukkan ujung "kantung" yang tertutup.
  • Setelah ujungnya masuk, gunakan jari telunjuk anda untuk mendorong "kantung" sampai ke ujung vagina. Pastikan bahwa ujung kondom telah terletak melewati tulang kemaluan anda dengan menekukkan jari telunjuk ke arah atas setelah jari berada beberapa inci di dalam vagina. Anda dapat mengenakan kondom perempuan maksimal delapan jam sebelum melakukan hubungan seksual.
  • Pastikan bahwa kondom tersebut tidak terpelintir dalam vagina anda. Jika demikian, keluarkan, berikan satu atau dua tetes cairan pelumas dan masukkan kembali. Catatan: Kira-kira satu inci dari ujung kondom yang terbuka akan berada di luar tubuh anda. Jika pasangan anda memasukkan penisnya di bawah atau di sebelah kantung, mintalah ia untuk menarik keluar kembali. Copot kondomnya, buang dan gunakan yang baru. Sampai anda dan pasangan anda terbiasa dengan kondom perempuan, akan sangat berguna jika anda menggunakan tangan anda untuk membantu memasukkan penisnya ke vagina.
  • Setelah pasangan anda berejakulasi dan menarik keluar penisnya, pencet dan putar ujung kondom yang terbuka agar sperma tidak tumpah. Keluarkan perlahan-lahan. Buanglah kondom bekas tersebut (namun jangan membuangnya ke lubang toilet).
  • Tidak disarankan untuk menggunakan ulang kondom perempuan.

    Bagaimana pengguna narkoba suntik (IDU) dapat mengurangi risiko tertular HIV?

    Bagi pengguna narkoba, langkah-langkah tertentu dapat diambil untuk mengurangi risiko kesehatan masyarakat maupun kesehatan pribadi, yaitu:
  • Beralih dari napza yang harus disuntikkan ke yang dapat diminum secara oral.
  • Jangan pernah menggunakan atau secara bergantian menggunakan semprit, air, atau alat untuk menyiapkan napza.
  • Gunakan semprit baru (yang diperoleh dari sumber-sumber yang dipercaya, misalnya apotek, atau melalui program pertukaran jarum suntikan) untuk mempersiapkan dan menyuntikkan narkoba.
  • Ketika mempersiapkan napza, gunakan air yang steril atau air bersih dari sumber yang dapat diandalkan.
  • Dengan menggunakan kapas pembersih beralkohol, bersihkan tempat yang akan disuntik sebelum penyuntikan dilakukan.

Bagaimana penularan dari ibu ke anak dapat dicegah?

Penularan HIV dari seorang ibu yang terinfeksi dapat terjadi selama masa kehamilan, selama proses persalinan atau setelah kelahiran melalui ASI. Tanpa adanya intervensi apapun, sekitar 15% sampai 30% ibu dengan infeksi HIV akan menularkan infeksi selama masa kehamilan dan proses persalinan. Pemberian air susu ibu meningkatkan risiko penularan sekitar 10-15%. Risiko ini tergantung pada faktor- faktor klinis dan bisa saja bervariasi tergantung dari pola dan lamanya masa menyusui.

Penularan dari Ibu ke Anak dapat dikurangi dengan cara berikut:

  • Pengobatan: Jelas bahwa pengobatan preventatif antiretroviral jangka pendek merupakan metode yang efektif dan layak untuk mencegah penularan HIV dari ibu ke anak. Ketika dikombinasikan dengan dukungan dan konseling makanan bayi, dan penggunaan metode pemberian makanan yang lebih aman, pengobatan ini dapat mengurangi risiko infeksi anak hingga setengahnya. Regimen ARV khususnya didasarkan pada nevirapine atau zidovudine. Nevirapine diberikan dalam satu dosis kepada ibu saat proses persalinan, dan dalam satu dosis kepada anak dalam waktu 72 jam setelah kelahiran. Zidovudine diketahui dapat menurunkan risiko penularan ketika diberikan kepada ibu dalam enam bulan terakhir masa kehamilan, dan melalui infus selama proses persalinan, dan kepada sang bayi selama enam minggu setelah kelahiran. Bahkan bila zidovudine diberikan di saat akhir kehamilan, atau sekitar saat masa persalinan, risiko penularan dapat dikurangi menjadi separuhnya. Secara umum, efektivitas regimen obat-obatan akan sirna bila bayi terus terpapar pada HIV melalui pemberian air susu ibu. Obat-obatan antiretroviral hendaknya hanya dipakai di bawah pengawasan medis.
  • Operasi Caesar: Operasi caesar merupakan prosedur pembedahan di mana bayi dilahirkan melalui sayatan pada dinding perut dan uterus ibunya. Dari jumlah bayi yang terinfeksi melalui penularan ibu ke anak, diyakini bahwa sekitar dua pertiga terinfeksi selama masa kehamilan dan sekitar saat persalinan. Proses persalinan melalui vagina dianggap lebih meningkatkan risiko penularan dari ibu ke anak, sementara operasi caesar telah menunjukkan kemungkinan terjadinya penurunan risiko. Kendatipun demikian, perlu dipertimbangkan juga faktor risiko yang dihadapi sang ibu.
  • Menghindari pemberian ASI: Risiko penularan dari ibu ke anak meningkat tatkala anak disusui. Walaupun ASI dianggap sebagai nutrisi yang terbaik bagi anak, bagi ibu penyandang HIV-positif, sangat dianjurkan untuk mengganti ASI dengan susu formula guna mengurangi risiko penularan terhadap anak. Namun demikian, ini hanya dianjurkan bila susu formula tersebut dapat memenuhi kebutuhan gizi anak, bila formula bayi itu dapat dibuat dalam kondisi yang higienis, dan bila biaya formula bayi itu terjangkau oleh keluarga.

Badan Kesehatan Dunia, WHO, membuat rekomendasi berikut:
Ketika makanan pengganti dapat diterima, layak, harganya terjangkau, berkesinambungan, dan aman, sangat dianjurkan bagi ibu yang terinfeksi HIV-positif untuk tidak menyusui bayinya. Bila sebaliknya, maka pemberian ASI eksklusif direkomendasikan pada bulan pertama kehidupan bayi dan hendaknya diputus sesegera mungkin.

Prosedur apakah yang harus ditempuh oleh seorang petugas kesehatan untuk mencegah penularan dalam setting perawatan kesehatan?

Para pekerja kesehatan hendaknya mengikuti Kewaspadaan Universal (Universal Precaution). Kewaspadaan Universal adalah panduan mengenai pengendalian infeksi yang dikembangkan untuk melindungi para pekerja di bidang kesehatan dan para pasiennya sehingga dapat terhindar dari berbagai penyakit yang disebarkan melalui darah dan cairan tubuh tertentu.

Kewaspadaan Universal meliputi:

  • Cara penanganan dan pembuangan barang-barang tajam (yakni barang-barang yang dapat menimbulkan sayatan atau luka tusukan, termasuk jarum, jarum hipodermik, pisau bedah dan benda tajam lainnya, pisau, perangkat infus, gergaji, remukan/pecahan kaca, dan paku);
  • Mencuci tangan dengan sabun dan air sebelum dan sesudah dilakukannya semua prosedur;
  • Menggunakan alat pelindung seperti sarung tangan, celemek, jubah, masker dan kacamata pelindung (goggles) saat harus bersentuhan langsung dengan darah dan cairan tubuh lainnya;
  • Melakukan desinfeksi instrumen kerja dan peralatan yang terkontaminasi;
  • Penanganan seprei kotor/bernoda secara tepat.

Selain itu, semua pekerja kesehatan harapnya berhati-hati dan waspada untuk mencegah terjadinya luka yang disebabkan oleh jarum, pisau bedah, dan instrumen atau peralatan yang tajam. Sesuai dengan Kewaspadaan Universal, darah dan cairan tubuh lain dari semua orang harus dianggap telah terinfeksi dengan HIV, tanpa memandang apakah status orang tersebut baru diduga atau sudah diketahui status HIV-nya.

Apa yang harus dilakukan bila anda menduga bahwa anda telah terekspos HIV?

Bila anda menduga bahwa anda telah terpapar HIV, anda hendaknya mendapatkan konseling dan melakukan testing/pemeriksaan HIV. Kewaspadaan hendaknya diambil guna mencegah penyebaran HIV kepada orang lain, seandainya anda benar terinfeksi HIV.

Penaggulangan masalah HIV/AIDS dan penularannya

Dimanakah HIV ditemukan?
HIV dapat ditemukan dalam cairan tubuh seperti darah, cairan semen, cairan vagina dan air susu ibu.

Bagaimanakah HIV ditularkan?

HIV ditularkan melalui seks penetratif (anal atau vaginal) dan oral seks; transfusi darah; pemakaian jarum suntik terkontaminasi secara bergantian dalam lingkungan perawatan kesehatan, dan melalui suntikan narkoba; dan melalui ibu ke anak, selama masa kehamilan, persalinan, dan menyusui.
  • Penularan Secara Seksual: HIV dapat ditularkan melalui seks penetratif yang tidak terlindungi. Sangat sulit untuk menentukan kemungkinan terjadinya infeksi melalui hubungan seks, kendatipun demikian diketahui bahwa risiko infeksi melalui seks vaginal umumnya tinggi. Penularan melalui seks anal dilaporkan memiliki risiko 10 kali lebih tinggi dari seks vaginal. Seseorang dengan infeksi menular seksual (IMS) yang tidak diobati, khususnya yang berkaitan dengan tukak/luka dan duh (cairan yang keluar dari tubuh) memiliki rata-rata 6-10 kali lebih tinggi kemungkinan untuk menularkan atau terjangkit HIV selama hubungan seksual. Dalam hal penularan HIV, seks oral dipandang sebagai kegiatan yang rendah risiko. Risiko dapat meningkat bila terdapat luka atau tukak di sekitar mulut dan jika ejakulasi terjadi di dalam mulut.
  • Penularan melalui pemakaian jarum suntik atau semprit secara bergantian: Menggunakan kembali atau memakai jarum atau semprit secara bergantian merupakan cara penularan HIV yang sangat efisien. Risiko penularan dapat diturunkan secara berarti di kalangan pengguna narkoba suntikan dengan penggunaan jarum dan semprit baru yang sekali pakai, atau dengan melakukan sterilisasi jarum yang tepat sebelum digunakan kembali. Penularan dalam lingkup perawatan kesehatan dapat dikurangi dengan adanya kepatuhan pekerja pelayanan kesehatan terhadap Kewaspadaan Universal (Universal Precautions).
  • Penularan dari Ibu ke Anak: HIV dapat ditularkan ke anak selama masa kehamilan, pada proses persalinan, dan saat menyusui. Pada umumnya, terdapat 15-30% risiko penularan dari ibu ke anak sebelum dan sesudah kelahiran. Sejumlah faktor dapat mempengaruhi risiko infeksi, khususnya jumlah virus (viral load) dari ibu pada saat kelahiran (semakin tinggi jumlah virus, semakin tinggi pula risikonya.). Penularan dari ibu ke anak setelah kelahiran dapat juga terjadi melalui pemberian air susu ibu.
  • Penularan melalui transfusi darah: Kemungkinan risiko terjangkit HIV melalui transfusi darah dan produk- produk darah yang terkontaminasi ternyata lebih tinggi (lebih dari 90%). Kendatipun demikian, penerapan standar keamanan darah menjamin penyediaan darah dan produk- produk darah yang aman, memadai dan berkualitas baik bagi semua pasien yang memerlukan transfusi. Keamanan darah meliputi skrining atas semua darah yang didonorkan guna mengecek HIV dan patogen lain yang dibawa darah, serta pemilihan donor yang cocok.


Bagaimana risiko terkena HIV dari berciuman?
Penularan melalui ciuman di mulut berisiko sangat rendah, dan belum ada bukti bahwa virus HIV dapat menyebar lewat air ludah karena berciuman.

Bagaimana risiko terkena HIV dari penindikan bagian tubuh atau tato?

Risiko penularan HIV terjadi bila alat yang digunakan terkontaminasi virus HIV dan tidak disterilkan terlebih dahulu atau digunakan secara bergantian dengan orang lain. Alat yang digunakan secara disuntikkan pada kulit hendaknya dipakai hanya satu kali, kemudian dibuang atau dicuci dan disterilkan secara seksama.

Bagaimana risiko terkena HIV dari berbagi alat cukur dengan seseorang yang terinfeksi HIV?
Segala jenis pelukaan dengan menggunakan benda yang tidak disterilkan, seperti silet atau pisau, dapat menularkan HIV. Memakai pencukur jenggot secara bergantian hendaknya dihindarkan, kecuali benda-benda tersebut disterilkan sepenuhnya sebelum digunakan.

Apakah berhubungan seks dengan seseorang penyandang HIV-positif aman dilakukan?

Selalu ada risiko penularan bila berhubungan seks dengan seseorang penyandang HIV-positif. Risiko dapat dikurangi secara signifikan bila kondom digunakan secara konsisten dan tepat.

Apakah aman bagi dua orang individu yang terinfeksi untuk secara eksklusif berhubungan seks tanpa perlindungan?

Tidak. Tidaklah aman bagi dua orang yang terinfeksi HIV untuk melakukan hubungan seks yang tak terlindungi karena adanya kemungkinan infeksi ulang dengan HIV tipe lain, dan kemungkinan menularnya infeksi menular seksual (IMS). Penggunaan kondom sangat disarankan ketika kedua pasangan terinfeksi.

Waspadalah!!! rehadap Penyakit Yang menyerang Organ Reproduksi Anda

Waspadalah!!! Terhadap Penyakit yang Menyerang Organ Reproduksi Anda……

Manusia mampu berkembang biak seperti halnya makhluk hidup lainya.Perkembangbiakan manusia terjadi secara kawin dan seksual.Oleh karena itu tubuh manusia dilengkapi dengan Alat-alat Reproduksi.
Alat reproduksi manusia terbagi menjadi alat reproduksi dalam dan alat reproduksi luar.Masing-masing alat reproduksi tersebut memiliki fungsi yang berbeda-beda.Namun semua alat reproduksi ini bekerja untuk menyusun satu tujuan sebagai sebuah sistem.
LALU BAGAMANA JIKA ALAT REPRODUKSI INI RUSAK ATAU MENGALAMI GANGGUAN DAN KELAINAN?
So……..pasti fungsinya tidak 100% alami,…..dan diperlukan beberapa terapi dan pengobatan untuk kesembuhan.
Tuhan Sungguh adil,.dia membekali makhluknya dengan alat reproduksi lengkap dengan fungsinya masing-masing,Tapi kadang Manusialah yang telah merusak oleh perbuatanya sendiri sehingga alat reproduksinya rusak dan bermukim virus-virus laknat……..






Sekedar info aja,berikut beberapa penyakit yang menyerang Reproduksi kita:
1.AIDS(Acquired Immunio Deficiency Syindrome).
AIDS adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh virus ARN(Asam RiboNukleat) yang disebut HIV(Human Immunodeviciency Virus).dimana virus yang masuk kedalam tubuh seseorang akan mengakibatkan lumpuhnya sistem kekebalan tubuh.Akibatnya penderita AIDS akan mudah terinfeksi oleh kuman yang meskipun pada orang sehat tidak menimbulkan penyakit.
LALU BAGAIMANA NASIB MEREKA YANG MENGIDAP HIV?
Pertama tubuhnya kurus kering,semangat hidup seolah hilang,karir hancur,badan rusak,susah bersosialisasi.
Seorang pengidap HIV tidak dapat melindungi dirinya sendiri dari segala jenis virus atau bakteri yang menyebabkan infeksi.Oleh karena itu penderita sering terkena penyakit pnemonia,TBC dan kanker tertentu.


Penularan-penularan penyakit AIDS antara lain:
- Melalui hubungan kelamin
-Transfusi darah
-jarum suntik yang telah terkontaminasi virus HIV


adapun gejala-gejala penyakit AIDS berupa:

  • kelelahan
  • demam
  • Berkeringat pada malam hari
  • Diare
  • Penurunan berat badan
  • Sariawan di mulut
  • batuk-batuk
  • Pembesaran kelenjar(di leher,ketiak,lipatan paha)
  • Pendarahan di bawah kulit,mulut,hidung, atau dubur)

Pencegahan AIDS:
a. Menghindari hubungan seks bebas dengan penderita AIDS
b.Menghindari hubungan seks dengan berganti-ganti pasangan
c.Menghindari hubungan seks dengan pecandu Narkotika(khususnya narkoba yang melalui suntikan)
d. Mencegah orang yang termasuk risiko tinggi(homoseks,WTS,WPecandu Narkotika) untuk menjadi donor darah

e. Menjamin sterilisasi dari setiap alat suntik dan tidak memakai alat suntik lebih dari sekali

2.Penyakit Herves kelamin
penyakit ini disebabkan oleh virus Herves Simplex.Penularannya terjadi melalui hubungan kelamin dengan penderita.Tanda-tanda awal dari penyakit ini adalah timbulnya panas dan rasa gatal di sekitar kemaluan,selanjutnya timbul gelembung seperti cacar.Apabila pecah menyebabkan rasa perih.Walaupun penderita tampak sudah sembuh,penderita dapat kambuh sekitar empat bulan setelah infeksi pertama
3.Penyakit kencing nanah
kencing nanah disebabkan oleh bakteri Neisseria gonorrhoeae.Penularanya melalui hubungan kelamin.Kuman ini masuk ke dalam tubuh penderita melalui selaput lendir pada kemaluan,rongga mulut atau selaput lendir lainnya.Gejala-gejalanya berupa timbulnya rasa nyeri,panas ketika buang air kecil,kemudian di ikuti keluarnya nanah dari saluran kemih

Ok Dear……

Semoga info ini,bermanfaat ya….:-)

ATTENTION!!!!


JAGALAH KESEHATAN REPRODUKSIMU,JAUHILAH KEMAKSIATAN YANG BISA MEMBAWA DAMPAK BURUK BAGI KEHIDUPANMU DAN JUGA KERUSAKAN ALAT REPRODUKSIMU.


Mencegah Lebih baik Daripada Mengobati

jangan coba-coba………

sekali mrncoba akan menjadi kebiasaan dan kebinasaan

karirmu hancur badan mu rusak Terinfeksi……..


stop Aids………..