Hot News :

Tampilkan postingan dengan label Remaja. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Remaja. Tampilkan semua postingan

Ketika "Aku" Terkena Hiv/Aids


HIV/AIDS??? Siapa sih yang mau terjangkit penyakit tersebut? Jangankan HIV/AIDS, siapa yang mau terkena serangan jantung, Hepatitis, TBC, Kusta, Kanker, Diabetes….???? Tidak ada bukan? Intinya setiap orang ingin hidupnya berjalan dengan lancar dengan tubuh yang sehat dan terbebas dari berbagai penyakit yang tidak hanya membuat orang akan menderita jasmani. Tapi juga membuat beban pikiran yang justru akan membuat orang lebih cepat mati. Belum lagi berbagai biaya pengobatan yang bagi sebagian besar masyarakat Indonesia mungkin sangat jauh dari kesanggupan, semakin membuat harapan untuk sembuh jauh melayang-layang di awan. Itu bukan klise, ini realita!

HIV/AIDS, bosan membicarakan apa itu HIV/AIDS secara pengertian lengkap dengan berbagai istilah ilmiahnya. Secara garis besar semua orang mungkin telah membaca, mendengar, mengkaji, apa itu HIV/AIDS. Tapi pernahkah terlintas di pikiran kita, ketika aku yang terkena HIV/AIDS, akan seperti apa jadinya? Mungkin sebagian orang akan menjawab, akh..imposible lah… kan aku orang baik-baik. Tak pernah pakai Narkoba apalagi ikutan seks bebas! Jadi tak mungkinlah aku kena penyakit begituan.

Tapi tahukah anda?

PENDERITA HIV/AIDS DI INDONESIA CAPAI DUA RATUS RIBU ORANG???

Semua ini artinya apa? Artinya ada 200.000 penderita HIV/AIDS yang tersebar diantara kita. Itu baru angka real yang berhasil di data. Selebihnya?? Yang jelas jauh lebih besar dari angka tersebut. Dan penderita HIV/AIDS, pada stadium tertentu sama sekali tidak terlihat beda dengan kita. Dan mereka bisa ada dimana saja! Di pasar,mall, sekolah, jalan, rumah sakit, taman, bengkel, bahkan mungkin di rumah kita sendiri. Lalu siapa yang berani bertaruh atas nama takdir, bahwa kita sepenuhnya terlepas dari ancaman HIV/AIDS? Bahkan bila kita adalah seorang suci yang selalu bersemayam dengan doa-doa? Tahukah kita tentang mereka yang terkena HIV/AIDS karena donor darah, dll yang tak ada hubungannya dengan seks bebas maupun Narkoba.

Simak kisah berikut :




Seorang sahabat yang berprofesi sebagai perawat, waktu itu dia bekerja di sebuah RS Swasta. Mendapat tugas merawat seorang pasien HIV/AIDS. Ketika selesai memasang jarum infus ke tangan pasien, tanpa sengaja jarum tersebut menusuk tangannya. Padahal teman ini sudah sedemikian hati-hatinya melakukan pekerjaan tersebut. Of course hal ini membuat teman itu panik bukan main. Syukurlah, sampai saat ini dia terlihat sehat walafiat. But who knows? Bukankah jalannya (masa inkubasi) penyakit ini panjang dan berliku?

Cerita lain, yang kualami sendiri, dan juga menginspirasi aku untuk membuat tulisan ini. Sebagai seorang Bidan yang sehari-hari bertugas di desa dengan peralatan seadanya ( Alhamdullillah dari hari ke hari peralatan tersebut semakin lengkap, seiring dengan semakin meningkatnya perhatian pemerintah terhadap upaya peningkatan kesehatan ) aku kerap di hadapkan kepada sebuah pilihan yang sulit. Pilihan antara menyelamatkan diri sendiri (dalam hal ini proteksi diri terhadap bahaya berbagai penyakit menular terutama Hepatitis dan HIV/AIDS) atau menyelamatkan bayi tak berdosa yang mungkin akan membawa pencerahan bagi keluarga dan bangsa.

Beberapa kali menghadapi kasus kelahiran dimana sang bayi membutuhkan pijat jantung dan pernafasan buatan. Dan beberapa kali pula, Alhamdullillah pertolongan tersebut dapat membuat KU bayi menjadi lebih baik. Masalahnya pernafasan buatan dengan cara mouth to mouth, walaupun dengan dilapisi kassa, sangatlah tidak aman. Karena salah satu cara penularan HIV/AIDS adalah lewat kontak langsung dengan cairan tubuh., melalui luka terbuka atau jaringan lunak yang terbuka, atau kontak dengan mukosa di mulut, mata, atau hidung. Dan bayi yang baru lahir tentu saja masih melekat dengan cairan tubuh sang ibu, air ketuban (walaupun telah dikeringkan).

Dan yang membuat HIV/AIDS terasa begitu dekat adalah, riwayat beberapa pasien tersebut. Ada dari mereka yang doyan berganti pasangan. Adapula suaminya yang suka jajan! Walaupun dengan segenap kehati-hatian di setiap tindakan dalam pekerjaanku, tetap saja HIV/AIDS menjadi salah satu prioritas yang wajib didalami, dibahas, pun dimengerti.

Siapa yang ingin mengidap HIV/AIDS? Tak ada. Tapi yang harus dipahami adalah siapapun bisa terjangkit penyakit tersebut. HIV/AIDS bukan penyakit kutukan yang hanya diperuntukkan buat mereka-mereka yang suka berbuat dosa. Bergelimangan zina dan bermandikan barang haram. Terlepas dari adanya kelompok tertentu yang memang mempunyai faktor resiko lebih besar. Siapapun, dimanapun, bisa saja tertular penyakit tesebut. Dan pernahkah terpikir, salah satu diantara 200.000 penderita HIV/AIDS adalah seseorang yang biasa bertemu kita di pasar, bersua ketika mengantar anak ke sekolah, atau sekedar berpapasan di jalan. Seseorang itu bisa saja kenalan, kerabat, keluarga, atau bahkan diri kita sendiri atau mungkin memang bukan siapa-siapa.

Lalu jika demikian, ketika aku(diri kita sendiri) yang terkena HIV/AIDS, akankah HIV/AIDS hanya akan tetap menjadi milik mereka segelintir orang yang peduli, milik pemerintah dengan dinas kesehatannya dengan rumah-rumah sakitnya, dengan dinas sosialnya. Akankah HIV/AIDS hanya akan kita lihat dan amati sebagai slogan-slogan yang banyak terpampang dan berbagai wacana yang kita tonton sepenggal lalu saluran televisi kita ganti ke berita gosip?

Mungkin tidak lagi. Ketika aku (diri kita sendiri) yang terkena HIV/AIDS mungkin aku akan tepana, terduduk lama tak percaya, mungkin menangis, menyesali, atau memandang dunia lebih indah agar semua bisa dilalui dengan lebih mudah (yang terakhir ini kemungkinan terakhir yang mungkin terjadi setelah melewati proses yang panjang).

Entahlah. Aku juga tak mau sok memahami sesuatu yang pasti sangat sulit buat dijalani.




Tapi percayalah, tak seorangpun yang ingin tertular HIV/AIDS. Tak mereka yang memang jauh dari kelompok beresiko, tidak juga mereka yang memang akrab dengan keadaan yang membawa mereka menjadi dekat dengan kemungkinan tertular HIV/AIDS.

Aku bukan seorang aktivis yang membawa misi memberantas HIV/AIDS. Bukan juga utusan pemerintah untuk menyampaikan program penanggulangan HIV/AIDS. Aku hanya penulis dan manusia biasa yang menyadari dan ingin berbagi tentang betapa HIV/AIDS ternyata amat dekat dengan kehidupan kita. Mungkin saja ada salah satu dari pembaca (cukup satu saja, tak usah banyak-banyak) yang kemudian tergerak dan lebih peduli terhadap masalah HIV/AIDS. Dan semoga banyak dari kita yang lebih berempati terhadap para penderita HIV/AIDS, karena… siapapun bisa terkena HIV/AIDS!!!

Perlu diketahui…

Acquired Immunodeficiency Syndrome atau Acquired Immune Deficiency Syndrome (disingkat AIDS) adalah sekumpulan gejala dan infeksi (atau: sindrom) yang timbul karena rusaknya sistem kekebalan tubuh manusia akibat infeksi virus HIV;[1] atau infeksi virus-virus lain yang mirip yang menyerang spesies lainnya (SIV, FIV, dan lain-lain).

Virusnya sendiri bernama Human Immunodeficiency Virus (atau disingkat HIV) yaitu virus yang memperlemah kekebalan pada tubuh manusia. Orang yang terkena virus ini akan menjadi rentan terhadap infeksi oportunistik ataupun mudah terkena tumor. Meskipun penanganan yang telah ada dapat memperlambat laju perkembangan virus, namun penyakit ini belum benar-benar bisa disembuhkan.

HIV dan virus-virus sejenisnya umumnya ditularkan melalui kontak langsung antara lapisan kulit dalam (membran mukosa) atau aliran darah, dengan cairan tubuh yang mengandung HIV, seperti darah, air mani, cairan vagina, cairan preseminal, dan air susu ibu.[2][3] Penularan dapat terjadi melalui hubungan intim (vaginal, anal, ataupun oral), transfusi darah, jarum suntik yang terkontaminasi, antara ibu dan bayi selama kehamilan, bersalin, atau menyusui, serta bentuk kontak lainnya dengan cairan-cairan tubuh tersebut.

Para ilmuwan umumnya berpendapat bahwa AIDS berasal dari Afrika Sub-Sahara.[4] Kini AIDS telah menjadi wabah penyakit. AIDS diperkiraan telah menginfeksi 38,6 juta orang di seluruh dunia.[5] Pada Januari 2006, UNAIDS bekerja sama dengan WHO memperkirakan bahwa AIDS telah menyebabkan kematian lebih dari 25 juta orang sejak pertama kali diakui pada tanggal 5 Juni 1981. Dengan demikian, penyakit ini merupakan salah satu wabah paling mematikan dalam sejarah. AIDS diklaim telah menyebabkan kematian sebanyak 2,4 hingga 3,3 juta jiwa pada tahun 2005 saja, dan lebih dari 570.000 jiwa di antaranya adalah anak-anak.[5] Sepertiga dari jumlah kematian ini terjadi di Afrika Sub-Sahara, sehingga memperlambat pertumbuhan ekonomi dan menghancurkan kekuatan sumber daya manusia di sana. Perawatan antiretrovirus sesungguhnya dapat mengurangi tingkat kematian dan parahnya infeksi HIV, namun akses terhadap pengobatan tersebut tidak tersedia di semua negara.[6]

Hukuman sosial bagi penderita HIV/AIDS, umumnya lebih berat bila dibandingkan dengan penderita penyakit mematikan lainnya. Terkadang hukuman sosial tersebut juga turut tertimpakan kepada petugas kesehatan atau sukarelawan, yang terlibat dalam merawat orang yang hidup dengan HIV/AIDS (ODHA).

(http://id.wikipedia.org/wiki/AIDS)

,Klik saja Banner yang ada lalu isi Formulir Pendaftarannya.


Mesin Penghasil Uang



Web Hosting


Web Hosting


Mesin Penghasil Uang



Waspadalah akan Bahaya Rokok!! satu batang Rokok nyawa melayang


Rokok adalah benda beracun yang memberi efek santai dan sugesti merasa lebih jantan. Di balik kegunaan atau manfaat rokok yang secuil itu terkandung bahaya yang sangat besar bagi orang yang merokok maupun orang di sekitar perokok yang bukan perokok.

1. Asap rokok mengandung kurang lebih 4000 bahan kimia yang 200 diantaranya beracun dan 43 jenis lainnya dapat menyebabkan kanker bagi tubuh. Beberapa zat yang sangat berbahaya yaitu tar, nikotin, karbon monoksida, dsb.

2. Asap rokok yang baru mati di asbak mengandung tiga kali lipat bahan pemicu kanker di udara dan 50 kali mengandung bahan pengeiritasi mata dan pernapasan. Semakin pendek rokok semakin tinggi kadar racun yang siap melayang ke udara. Suatu tempat yang dipenuhi polusi asap rokok adalah tempat yang lebih berbahaya daripada polusi di jalanan raya yang macet.

3. Seseorang yang mencoba merokok biasanya akan ketagihan karena rokok bersifat candu yang sulit dilepaskan dalam kondisi apapun. Seorang perokok berat akan memilih merokok daripada makan jika uang yang dimilikinya terbatas.

4. Harga rokok yang mahal akan sangat memberatkan orang yang tergolong miskin, sehingga dana kesejahteraan dan kesehatan keluarganya sering dialihkan untuk membeli rokok. Rokok dengan merk terkenal biasanya dimiliki oleh perusahaan rokok asing yang berasal dari luar negeri, sehingga uang yang dibelanjakan perokok sebagaian akan lari ke luar negeri yang mengurangi devisa negara. Pabrik rokok yang mempekerjakan banyak buruh tidak akan mampu meningkatkan taraf hidup pegawainya, sehingga apabila pabrik rokok ditutup para buruh dapat dipekerjakan di tempat usaha lain yang lebih kreatif dan mendatangkan devisa.

5. Sebagian perokok biasanya akan mengajak orang lain yang belum merokok untuk merokok agar merasakan penderitaan yang sama dengannya, yaitu terjebak dalam ketagihan asap rokok yang jahat. Sebagian perokok juga ada yang secara sengaja merokok di tempat umum agar asap rokok yang dihembuskan dapat terhirup orang lain, sehingga orang lain akan terkena penyakit kanker.

6. Kegiatan yang merusak tubuh adalah perbuatan dosa, sehingga rokok dapat dikategorikan sebagai benda atau barang haram yang harus dihindari dan dijauhi sejauh mungkin. Ulama atau ahli agama yang merokok mungkin akan memiliki persepsi yang berbeda dalam hal ini.

Kesimpulan :

Jadi dapat disimpulkan bahwa merokok merupakan kegiatan bodoh yang dilakukan manusia yang mengorbankan uang, kesehatan, kehidupan sosial, pahala, persepsi positif, dan lain sebagainya. Maka bersyukurlah anda jika belum merokok, karena anda adalah orang yang smart / pandai.

Ketika seseorang menawarkan rokok maka tolak dengan baik. Merasa kasihanlah pada mereka yang merokok. Jangan dengarkan mereka yang menganggap anda lebih rendah dari mereka jika tidak ikutan ngerokok. karena dalam hati dan pikiran mereka yang waras mereka ingin berhenti merokok.

KPA Cirebon Sosialisai Bahaya AIDS di terminal


CIREBON : Komisi Penanggulanan AIDS (KPA) Kota Cirebon melakukan sosialisasi bahaya AIDS di sejumlah lokasi mangkal pekerja seks komersil Kota Cirebon, bertepatan dengan peringatan hari AIDS.

Di terminal Bus Harjamukti Kota Cirebon, sejumlah petugas KPA Kota Cirebon dan beberapa organisasi masyarakat membagikan stiker dan brosur tentang bahaya AIDS kepada para pekerja seks, pedagang, tukang becak, dan pengguna jalan yang melintas jalan tersebut.

Sekretaris KPA Kabupaten Cirebon, Denny Agustin mengatakan kegiatan peringatan hari AIDS sedunia ini digelar secara serentak di empat titik ruas jalan Kabupaten Cirebon yaitu di Kecamatan Sumber, Palimanan, Gunung Jati dan Mundu.

"Kami menggerakkan sekitar 100 orang lebih yang berasal dari beberapa elemen masyarakat yang peduli terhadap bahaya AIDS yang kami beri nama Komunitas Serpihan Mutiara," katanya.

Denny mengatakan penyebab tertinggi penularan penyakit HIV/AIDS di Cirebon adalah akibat penggunaan jarum suntik yang tidak steril dan bergantian serta hubungan seks bebas.

Berdasarkan hasil survey, lanjut Denny jumlah penderita HIV/AIDS di Kabupaten Cirebon tahun ini adalah 493 orang atau bertambah 23 orang dibanding tahun sebelumnya yaitu 470 orang. (BC-11)

Rahasia"Virgin" Ketika Keperawanan Dipertanyakan

"Virgin" Ketika Keperawanan Dipertanyakan






(Renungan Hari AIDS Sedunia)
imageKebetulan atau bukan, menjelang peringatan Hari AIDS Sedunia, pada 1 Desember, di bioskop di kota-kota besar telah diputar sebuah film yang isinya kontroversial: Virgin-Ketika Keperawanan Dipertanyakan (VKKD). Tema keperawanan memang sering mengundang keingintahuan kalangan remaja. Dalam penyuluhan mewaspadai bahaya AIDS bagi remaja, misalnya, pertanyaan seputar keperawanan lazim muncul. VKKD yang dibuat dengan menargetkan remaja sebagai penontonnya sepintas dari judulnya ingin memenuhi keingintahuan remaja.

Pemutaran awal film yang berdekatan dengan peringatan Hari AIDS bisa memunculkan kesan bahwa ada kaitan antara isi film tersebut dan isi pesan pada peringatan Hari AIDS. Bahaya AIDS memerlukan penjelasan dan contoh konkret agar mudah dipahami masyarakat, khususnya remaja. VKKD sengaja mengesankan diri sebagai contoh buruk pergaulan yang harus dihindari remaja jika tidak ingin terhindar dari AIDS. Dengan strategi ini VKKD mendapat tempat berlindung yang aman jika ada kecaman publik terhadap peredarannya.

Padahal isi filmnya sendiri jauh untuk bisa disebut media pembelajaran bagi keingintahuan remaja. Isinya bukanlah berisi pesan-pesan untuk mewaspadai bahaya AIDS, namun sebaliknya mengampanyekan secara vulgar pergaulan bebas dan hedonisme bagi remaja. Praktis tidak ada ada pesan yang berisi bahaya pergaulan bebas dan hedonisme bagi remaja. Alih-alih memberi pendidikan seks dengan benar, film tersebut mengkomodifikasi tema-tema seks yang biasanya ingin diketahui remaja. Dalam film itu, pertanyaan remaja tentang keperawanan bukan hanya untuk memenuhi rasa ingin tahu, tetapi juga untuk menikmati pengalaman baru dengan mempraktikkan langsung jawabannya. Masalahnya, jawaban yang diperoleh dari film tersebut berupa pengetahuan yang menyesatkan-jawaban yang dibuat adalah untuk mendukung motif mempertanyakan keperawanan, yakni pembenar hasrat menikmati pergaulan bebas. Pesan tersiratnya, untuk bisa menikmati pergaulan saat ini remaja tidak perlu mencemaskan keperawanan. Keperawanan, yang bagi masyarakat kita masih disakralkan, citra, dan maknanya hendak didekonstruksi.



Adsense Indonesia

Di sisi lain, mungkin karena belum beredar luas, belum terdengar reaksi masyarakat terhadap VKKD seperti dalam kasus Buruan Cium Gue (BCG). Dan yang mengherankan, film tersebut berhasil diputar di beberapa kota; berbeda dengan BCG yang akhirnya dihentikan peredarannya sebelum sempat diputar di bioskop. Padahal, dibandingkan BCG, VKKD lebih vulgar mempertontonkan atau mencontohkan pergaulan bebas dan hedonisme bagi remaja. Dalam salah satu adegan diceritakan aktivitas seks komersial yang secara sadar dipilih remaja (putri), sebagai bagian dari menikmati pengalaman mempertanyakan keperawanan.

Alih-alih mengajarkan pendidikan (seks), VKKD mengajarkan praktik seks bebas bagi remaja. Remaja dikenalkan dalam ruang hiperealitas, ruang pemainan citra yang sebetulnya berbeda-bahkan tidak ada-dalam kehidupan nyata. Fantasi dan permainan citra di film dikenalkan untuk memenuhi keingintahuan remaja tentang pengetahuan seks. Baik VKKD maupun BCG memahami betul perilaku remaja yang selanjutnya mengkomodifikasikannya ke dalam ruang hasrat-libido. Keduanya merupakan perpanjangan sekaligus penguat sosialisasi kebebasan gaya hidup atau hedonisme di televisi.

Sebagai tayangan hiburan, VKKD sendiri miskin estetika apalagi pesan pendidikan. Bukan karya bercitra seni jika VKKD lebih mendekati komodifikasi dan eksploitasi kepolosan perilaku remaja. Bukan sebagai ekspresi seni jika VKKD ternyata menghadirkan ruang simulasi seks bagi remaja. Saat yang sama VKKD juga mengabaikan nilai pendidikan. Jika memang dimaksudkan bermuatan pendidikan, tentu pengetahuan seks dalam adegan-adegannya tidak disampaikan secara vulgar dan provokatif, apalagi dengan contoh-contoh yang berlawanan dengan norma di masyarakat. Lewat visualisasi vulgar, VKKD memperlihatkan pamer tato di pinggul, tarian erotis di pesta ulang tahun, dan adegan video casting sabun mandi.




Komodifikasi tubuh yang mengarah kepada fetisisme (pemujaan) tubuh ini bukanlah pendidikan seks, melainkan eksploitasi dan manipulasi obyek seksual remaja. Adegan-adegan tersebut mengajak remaja untuk mengikuti komodifikasi tubuh dalam ruang simulasi hasrat-libido. Atas nama kemajuan, modernisasi, gaya hidup trendi, remaja dinarsiskan. Dalam kondisi seperti ini batasan norma bahkan agama pun dipandang tidak ada. Terhadap nilai atau norma yang disakralkan masyarakat (keperawanan misalnya), VKKD mengajak remaja untuk mengkritisnya.

Selain mengekspresikan fetisisme tubuh, VKKD sarat dengan upaya mendekonstruksi nilai atau norma yang ada di masyarakat. Nilai yang oleh masyarakat masih dianggap amoral, asusila, abnormal didekonstruksi menjadi nilai-nilai baru yang mengekspresikan kebebasan. Yang mempertahankan keperawanan berada pada posisi inferior-konservatif dan tradisional; yang melepas keperawanan, dengan eksperimen dan pengalaman seksnya, berarti mengikuti perkembangan zaman. Lebih dari sebagai hiburan, VKKD mempromosikan kehidupan alternatif atas nilai atau norma yang mapan di tengah masyarakat yang dianggapnya tradisional.

Dengan kenyatan di atas, apa yang bisa dilakukan masyarakat dalam membentengi moral remaja? Berkaca pada beberapa pengalaman sebelumnya, reaksi masyarakat menentang tayangan yang mengeksploitasi tubuh justru memperoleh penentangan balik. Tatkala Aa Gym menggalang dukungan untuk menghentikan peredaran BCG, dia justru diserang balik kalangan yang membela film ini. Kontroversi yang berkembang di publik justru turut melambungkan popularitas film dan menguatkan keingintahuan remaja. Bagaimana dengan VKKD, akankah dicegah dengan pendekatan sebagaiman pada BCG?

Keingintahuan remaja pada tema seks memang normal, sesuai dengan perkembangan psikologinya. Pelarangan melalui gerakan massa, apalagi reaktif, hasilnya bisa kontraproduktif. Ketika VKKD dilarang, remaja justru bisa tertarik untuk menontonnya. Saya belum tahu apakah belum bersuaranya masyarakat-termasuk Aa'Gym yang vokal ketika menentang BCG-karena mengubah strategi pendekatannya. Yang prioritas dalam jangka pendek ini menurut saya adalah membatasi peredaran VKKD. Meski kecolongan karena telah diputar di beberapa kota besar, namun masih lebih banyak lagi remaja di luar kota-kota besar ini yang belum mengetahui VKKD. Agar tidak memunculkan keingintahuan remaja lebih luas, saya setuju jika masyarakat menahan diri (baca: berhati-hati) dalam bereaksi menentang peredaran VKKD. Namun menahan dirinya ini harus disertai membangun jaringan lebih luas dengan pihak-pihak yang seaspirasi untuk menguatkan lobi.

Lobi pertama adalah kepada media massa. Media massa mampu mempublikasikan atau mempopulerkan tayangan sejenis VKKD, meskipun masyarakat menahan diri apalagi jika melakukan tindakan demonstratif. Media mampu membentuk opini yang berkebalikan dengan aspirasi mayoritas masyarakat-seperti pada kasus Aa Gym dan BCG. Untuk itu, yang pertama kali dilakukan adalah menekan media agar tidak mempublikasikannya. Inilah pentingnya jaringan yang kuat agar mampu mempengaruhi media. Kesolidan gerakan moral dari masyarakat dalam melobi dan membentuk opini di masyarakat (terlepas media mendukungnya ataupun tidak) merupakan pekerjaan jangka panjangnya.

Baik VKKD maupun BCG bukanlah kasus terakhir; akan tetap bermunculan film-film sejenis, disebabkan fenomena ini merupakan kelanjutan gaya hidup hedonisme yang masih melanda masyarakat kita. Selagi hedonisme belum berhenti, fetisisme tubuh akan tetap ada. Dan film yang menyajikan pergaulan bebas merupakan media untuk mengekspresikan hasrat-libido para fetisis. (RioL)




Penyalahgunaan dan bahaya Narkoba



Bahaya narkoba sudah menjadi momok yang menakutkan bagi masyarakat. Berbagai kampanye anti narkoba dan penanggulangan terhadap orang-orang yang ingin sembuh dari ketergantungan narkoba semakin banyak didengung-dengungkan.

Sebab, penyalahgunaan narkoba bisa membahayakan bagi keluarga, masyarakat, dan masa depan bangsa.


Bahaya penyalahgunaan narkoba bagi tubuh manusia

Secara umum semua jenis narkoba jika disalahgunakan akan memberikan empat dampak sebagai berikut:
  1. Depresan
    Pemakai akan tertidur atau tidak sadarkan diri.
  2. Halusinogen
    Pemakai akan berhalusinasi (melihat sesuatu yang sebenarnya tidak ada).
  3. Stimulan
    Mempercepat kerja organ tubuh seperti jantung dan otak sehingga pemakai merasa lebih bertenaga untuk sementara waktu. Karena organ tubuh terus dipaksa bekerja di luar batas normal, lama-lama saraf-sarafnya akan rusak dan bisa mengakibatkan kematian.
  4. Adiktif
    Pemakai akan merasa ketagihan sehingga akan melakukan berbagai cara agar terus bisa mengonsumsinya. Jika pemakai tidak bisa mendapatkannya, tubuhnya akan ada pada kondisi kritis (sakaw).

Adapun bahaya narkoba berdasarkan jenisnya adalah sebagai berikut:

  1. Opioid:
    • depresi berat
    • apatis
    • rasa lelah berlebihan
    • malas bergerak
    • banyak tidur
    • gugup
    • gelisah
    • selalu merasa curiga
    • denyut jantung bertambah cepat
    • rasa gembira berlebihan
    • banyak bicara namun cadel
    • rasa harga diri meningkat
    • kejang-kejang
    • pupil mata mengecil
    • tekanan darah meningkat
    • berkeringat dingin
    • mual hingga muntah
    • luka pada sekat rongga hidung
    • kehilangan nafsu makan
    • turunnya berat badan

  2. Kokain
    • denyut jantung bertambah cepat
    • gelisah
    • rasa gembira berlebihan
    • rasa harga diri meningkat
    • banyak bicara
    • kejang-kejang
    • pupil mata melebar
    • berkeringat dingin
    • mual hingga muntah
    • mudah berkelahi
    • pendarahan pada otak
    • penyumbatan pembuluh darah
    • pergerakan mata tidak terkendali
    • kekakuan otot leher

  3. Ganja
    • mata sembab
    • kantung mata terlihat bengkak, merah, dan berair
    • sering melamun
    • pendengaran terganggu
    • selalu tertawa
    • terkadang cepat marah
    • tidak bergairah
    • gelisah
    • dehidrasi
    • tulang gigi keropos
    • liver
    • saraf otak dan saraf mata rusak
    • skizofrenia

  4. Ectasy
    • enerjik tapi matanya sayu dan wajahnya pucat,
    • berkeringat
    • sulit tidur
    • kerusakan saraf otak
    • dehidrasi
    • gangguan liver
    • tulang dan gigi keropos
    • tidak nafsu makan
    • saraf mata rusak

  5. Shabu-shabu:
    • enerjik
    • paranoid
    • sulit tidur
    • sulit berfikir
    • kerusakan saraf otak, terutama saraf pengendali pernafasan hingga merasa sesak nafas
    • banyak bicara
    • denyut jantung bertambah cepat
    • pendarahan otak
    • shock pada pembuluh darah jantung yang akan berujung pada kematian.

  6. Benzodiazepin:
    • berjalan sempoyongan
    • wajah kemerahan
    • banyak bicara tapi cadel
    • mudah marah
    • konsentrasi terganggu
    • kerusakan organ-organ tubuh terutama otak

Perilaku pemakai untuk mendapatkan narkoba

  • melakukan berbagai cara untuk mendapatkan narkoba secara terus-menerus
  • Pemakai yang sudah berada pada tahap kecanduan akan melakukan berbagai cara untuk bisa mendapatkan narkoba kembali. Misalnya, pelajar bisa menggunakan uang sekolahnya untuk membeli narkoba jika sudah tidak mempunyai persediaan uang.
  • Bahkan, mereka bisa mencuri uang dari orangtua, teman, atau tetangga. Hal tersebut tentu akan mengganggu stabilitas sosial.
  • Dengan kondisi tubuh yang rusak, mustahil bagi pemakai untuk belajar, bekerja, berkarya, atau melakukan hal-hal positif lainnya.

sumber asianbrain

Perawatan dan Pengobatan Untuk HIV/AIDS

Adakah obat untuk HIV?

Tidak. Tidak ada obat yang dapat sepenuhnya menyembuhkan HIV/AIDS. Perkembangan penyakit dapat diperlambat namun tidak dapat dihentikan sepenuhnya. Kombinasi yang tepat antara berbagai obat-obatan antiretroviral dapat memperlambat kerusakan yang diakibatkan oleh HIV pada sistem kekebalan tubuh dan menunda awal terjadinya AIDS.

Jenis pengobatan dan perawatan apakah yang tersedia?

Pengobatan dan perawatan yang ada terdiri dari sejumlah unsur yang berbeda, yang meliputi konseling dan tes mandiri (VCT), dukungan bagi pencegahan penularan HIV, konseling tindak lanjut, saran-saran mengenai makanan dan gizi, pengobatan IMS, pengelolaan efek nutrisi, pencegahan dan perawatan infeksi oportunistik (IOS), dan pemberian obat-obatan antiretroviral.

Apakah obat anti retroviral itu?

Obat antiretroviral digunakan dalam pengobatan infeksi HIV. Obat-obatan ini bekerja melawan infeksi itu sendiri dengan cara memperlambat reproduksi HIV dalam tubuh.

Bagaimana cara kerja obat antiretroviral?

Dalam suatu sel yang terinfeksi, HIV mereplikasi diri, yang kemudian dapat menginfeksi sel-sel lain dalam tubuh yang masih sehat. Semakin banyak sel yang diinfeksi HIV, semakin besar dampak yang ditimbulkannya terhadap kekebalan tubuh (immunodeficiency). Obat-obatan antiretroviral memperlambat replikasi sel-sel, yang berarti memperlambat penyebaran virus dalam tubuh, dengan mengganggu proses replikasi dengan berbagai cara.
  • Penghambat Nucleoside Reverse Transcriptase (NRTI)


HIV memerlukan enzim yang disebut reverse transcriptase untuk mereplikasi diri. Jenis obat-obatan ini memperlambat kerja reverse transcriptase dengan cara mencegah proses pengembangbiakkan materi genetik virus tersebut.

  • Penghambat Non-Nucleoside Reverse Transcriptase (NNRTI)


Jenis obat-obatan ini juga mengacaukan replikasi HIV dengan mengikat enzim reverse transcriptase itu sendiri. Hal ini mencegah agar enzim ini tidak bekerja dan menghentikan produksi partikel virus baru dalam sel-sel yang terinfeksi.

  • Penghambat Protease (PI)


Protease merupakan enzim pencernaan yang diperlukan dalam replikasi HIV untuk membentuk partikel-partikel virus baru. Protease memecah belah protein dan enzim dalam sel-sel yang terinfeksi, yang kemudian dapat menginfeksi sel yang lain. Penghambat protease mencegah pemecah-belahan protein dan karenanya memperlambat produksi partikel virus baru.

Obat-obatan lain yang dapat menghambat siklus virus pada tahapan yang lain (seperti masuknya virus dan fusi dengan sel yang belum terinfeksi) saat ini sedang diujikan dalam percobaan-percobaan klinis.

Apakah obat antiretroviral efektif?

Penggunaan ARV dalam kombinasi tiga atau lebih obat-obatan menunjukkan dapat menurunkan jumlah kematian dan penyakit yang terkait dengan AIDS secara dramatis. Walau bukan solusi penyembuhan, kombinasi terapi ARV dapat memperpanjang hidup orang penyandang HIV-positif, membuat mereka lebih sehat, dan hidup lebih produktif dengan mengurangi varaemia (jumlah HIV dalam darah) dan meningkatkan jumlah sel-sel CD4+ (sel-sel darah putih yang penting bagi sistem kekebalan tubuh).

Supaya pengobatan antiretroviral dapat efektif untuk waktu yang lama, jenis obat-obatan antiretroviral yang berbeda perlu dikombinasikan. Inilah yang disebut sebagai terapi kombinasi. Istilah 'Highly Active Anti-Retroviral Therapy' (HAART) digunakan untuk menyebut kombinasi dari tiga atau lebih obat anti HIV.

Bila hanya satu obat digunakan sendirian, diketahui bahwa dalam beberapa waktu, perubahan dalam virus menjadikannya mampu mengembangkan resistensi terhadap obat tersebut. Obat tersebut akhirnya menjadi tidak efektif lagi dan virus mulai bereproduksi kembali dalam jumlah yang sama seperti sebelum dilakukan pengobatan. Bila dua atau lebih obat-obatan digunakan bersamaan, tingkat perkembangan resistensi dapat dikurangi secara substansial. Biasanya, kombinasi tersebut terdiri atas dua obat yang bekerja menghambat reverse transcriptase enzyme dan satu obat penghambat protease. Obat-obatan anti retroviral hendaknya hanya diminum di bawah pengawasan medis.

Mengapa ARV tidak siap tersedia?

Di negara-negara berkembang, hanya sekitar 5% dari mereka yang membutuhkan dapat memperoleh pengobatan antiretroviral, sementara di negera-negara berpendapatan tinggi akses tersebut hampir universal. Masalahnya adalah harga obat-obatan yang tinggi, infrastruktur perawatan kesehatan yang tidak memadai, dan kurangnya sumber pembiayaan, menghalangi penggunaan perawatan kombinasi ARV secara meluas di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah.

Sebanyak 12 obat-obatan ARV telah diikutsertakan dalam Daftar Obat-obatan Esensial WHO (WHO Essential Medicines List). Diikutsertakannya ARV dalam Daftar Obat-obatan Esensial WHO akan mendorong pemerintah di negara-negara dengan epidemi tinggi untuk lebih memperluas pendistribusian obat-obatan esensial tersebut kepada mereka yang memerlukannya. Sementara itu, meningkatnya komitmen ekonomi dan politik di tahun-tahun terakhir ini, yang distimulir oleh orang yang hidup dengan HIV/AIDS (ODHA), masyarakat sipil dan mitra lainnya, telah membuka ruang bagi perluasan akses terhadap terapi HIV secara luar biasa.

Perawatan jenis apakah yang tersedia ketika akses ARV tidak tersedia?

Unsur-unsur perawatan lain dapat membantu mempertahankan kualitas hidup tinggi saat ARV tidak tersedia. Unsur-unsur ini meliputi nutrisi yang memadai, konseling, pencegahan dan pengobatan infeksi oportunistik, dan menjaga kesehatan pada umumnya.

Apakah PEP itu?

Perawatan Pencegahan Pasca Pajanan terdiri dari pengobatan, tes laboratorium dan konseling. Pengobatan PEP harus dimulai dalam hitungan jam dari saat kemungkinan pajanan HIV dan harus berlanjut selama sekitar empat minggu. Pengobatan PEP belum terbukti dapat mencegah penularan HIV. Kendatipun demikian, kajian-kajian penelitian menunjukkan bahwa bila pengobatan dapat dilaksanakan lebih cepat setelah kemungkinan pajanan HIV (idealnya dalam waktu dua jam dan tak lebih dari 72 jam setelah pajanan), pengobatan tersebut mungkin bermanfaat dalam mencegah infeksi HIV.

KIat mencegah penularan HIV/AIDS

Bagaimana infeksi HIV dapat dicegah?

Penularan HIV secara seksual dapat dicegah dengan:

  • berpantang seks
  • hubungan monogami antara pasangan yang tidak terinfeksi
  • seks non-penetratif
  • penggunaan kondom pria atau kondom wanita secara konsisten dan benar


Cara tambahan yang lain untuk menghindari infeksi:

  • Bila anda seorang pengguna narkoba suntikan, selalu gunakan jarum suntik atau semprit baru yang sekali pakai atau jarum yang secara tepat disterilkan sebelum digunakan kembali.
  • Pastikan bahwa darah dan produk darah telah melalui tes HIV dan standar standar keamanan darah dilaksanakan.


Apakah "seks aman" itu?

Tak ada seks yang 100% aman. Seks yang lebih aman menyangkut upaya-upaya kewaspadaan untuk menurunkan potensi penularan dan terkena infeksi menular seksual (IMS), termasuk HIV, saat melakukan hubungan seks. Menggunakan kondom secara tepat dan konsisten selama melakukan hubungan seks dianggap sebagai seks yang lebih aman.

Seberapa efektifkah kondom dalam mencegah HIV?

Kondom yang kualitasnya terjamin adalah satu-satunya produk yang saat ini tersedia untuk melindungi pemakai dari infeksi seksual karena HIV dan infeksi menular seksual (IMS) lainnya. Ketika digunakan secara tepat, kondom terbukti menjadi alat yang efektif untuk mencegah infeksi HIV di kalangan perempuan dan laki-laki.

Walaupun begitu, tidak ada metode perlindungan yang 100% efektif, dan penggunaan kondom tidak dapat menjamin secara mutlak perlindungan terhadap segala infeksi menular seksual (IMS). Agar perlindungan kondom efektif, kondom tersebut harus digunakan secara benar dan konsisten. Penggunaan yang kurang tepat dapat mengakibatkan lepasnya atau bocornya kondom, sehingga menjadi tidak efektif.

Bagaimana cara memasang kondom pria?

  • Kondom berpelumas lebih sedikit kemungkinan untuk robek saat dikenakan atau digunakan. Pelumas berbasis minyak, seperti vaselin, hendaknya tidak digunakan karena dapat merusak kondom.
  • Hanya buka bungkusan berisi kondom saat akan digunakan, kalau tidak kondom akan mengering. Berhati-hatilah agar kondom tidak rusak atau sobek ketika anda membuka bungkusnya. Bila kondom ternyata sobek, buang kondom tersebut dan buka bungkusan yang baru.
  • Kondom dikemas tergulung dalam bentuk lingkaran gepeng. Pasanglah kondom yang tergulung itu di ujung penis. Peganglah ujung kondom di antara ibu jari dan jari telunjuk untuk menekan udara supaya keluar dari ujung kondom. Tindakan ini akan menyisakan ruang untuk tempat cairan semen setelah terjadinya ejakulasi. Tetap pegang ujung kondom dengan satu tangan. Dengan tangan yang satunya, gulunglah sepanjang penis yang berereksi ke arah rambut kemaluan. Jika pria pemakai tidak disunat, ia harus menarik kulup ke arah pangkal penis sebelum menggulung kondom.
  • Bila kondom tidak cukup berpelumas, pelumas berbasis air (seperti silikon, gliserin, atau K-Y jelly) dapat ditambahkan. Bahkan air ludah dapat berfungsi dengan baik sebagai pelumas. Pelumas yang terbuat dari minyak-minyak goreng atau lemak, minyak bayi atau minyak mineral, jeli berbasis bahan turunan minyak bumi seperti vaselin dan olesan lainnya - hendaknya jangan digunakan karena dapat merusak kondom.
  • Setelah berhubungan seks, kondom perlu segera dilepaskan secara benar.
  • Segera setelah si pria pemakai mengalami ejakulasi, ia harus menahan pada ujung dekat pangkal penis untuk memastikan agar kondom tidak terlepas.
  • Kemudian, si pria harus menarik keluar penisnya selagi masih dalam keadaan ereksi.
  • Ketika penis mengecil kembali, lepaskan kondom dan buanglah kondom pada tempat yang tepat. Jangan membuang kondom ke dalam toilet dan menyentornya dengan air.
  • Bila anda akan melakukan hubungan seks lagi, gunakan kondom baru, dan ulangi proses di atas dari awal.
    Apakah kondom perempuan?
    Kondom perempuan merupakan metode kontrasepsi pertama dan satu-satunya yang dikendalikan oleh perempuan. Kondom perempuan adalah sarung yang terbuat dari bahan polyuretan yang kuat, lembut, dan tembus pandang yang dimasukkan ke dalam vagina sebelum melakukan hubungan seks. Kondom tersebut sepenuhnya mengikuti bentuk vagina dan karenanya dengan penggunaan yang benar dan konsisten, ia akan memberikan perlindungan dari kemungkinan hamil sekaligus infeksi menular seksual (IMS). Kondom perempuan tidak memiliki risiko dan efek samping, dan tidak memerlukan resep atau intervensi dari staf perawatan kesehatan.

    Bagaimana cara memasang kondom perempuan?
  • Ambil kondom dari dalam bungkus pelindungnya. Bila dipandang perlu, tambahkan pelumas ekstra pada cincin-cincin kondom bagian dalam dan luar.
  • Untuk memasukkan kondom, berjongkoklah, duduk dengan kedua lutut terbuka lebar, atau berdirilah dengan satu kaki bertumpu di atas bangku kecil atau kursi rendah. Pegang kondom dengan bagian ujung yang terbuka menghadap ke arah bawah. Sambil memegang cincin atas "kantung" (ujung kondom yang tertutup), pencet cincin diantara ibu jari dan jari tengah.
  • Kemudian letakkan jari telunjuk di antara ibu jari dan jari tengah. Dengan jari-jari dalam posisi tersebut, jagalah agar bagian ujung kondom tetap terjepit dalam bentuk lonjong pipih. Gunakan tangan yang satunya untuk membuka bibir vagina dan masukkan ujung "kantung" yang tertutup.
  • Setelah ujungnya masuk, gunakan jari telunjuk anda untuk mendorong "kantung" sampai ke ujung vagina. Pastikan bahwa ujung kondom telah terletak melewati tulang kemaluan anda dengan menekukkan jari telunjuk ke arah atas setelah jari berada beberapa inci di dalam vagina. Anda dapat mengenakan kondom perempuan maksimal delapan jam sebelum melakukan hubungan seksual.
  • Pastikan bahwa kondom tersebut tidak terpelintir dalam vagina anda. Jika demikian, keluarkan, berikan satu atau dua tetes cairan pelumas dan masukkan kembali. Catatan: Kira-kira satu inci dari ujung kondom yang terbuka akan berada di luar tubuh anda. Jika pasangan anda memasukkan penisnya di bawah atau di sebelah kantung, mintalah ia untuk menarik keluar kembali. Copot kondomnya, buang dan gunakan yang baru. Sampai anda dan pasangan anda terbiasa dengan kondom perempuan, akan sangat berguna jika anda menggunakan tangan anda untuk membantu memasukkan penisnya ke vagina.
  • Setelah pasangan anda berejakulasi dan menarik keluar penisnya, pencet dan putar ujung kondom yang terbuka agar sperma tidak tumpah. Keluarkan perlahan-lahan. Buanglah kondom bekas tersebut (namun jangan membuangnya ke lubang toilet).
  • Tidak disarankan untuk menggunakan ulang kondom perempuan.

    Bagaimana pengguna narkoba suntik (IDU) dapat mengurangi risiko tertular HIV?

    Bagi pengguna narkoba, langkah-langkah tertentu dapat diambil untuk mengurangi risiko kesehatan masyarakat maupun kesehatan pribadi, yaitu:
  • Beralih dari napza yang harus disuntikkan ke yang dapat diminum secara oral.
  • Jangan pernah menggunakan atau secara bergantian menggunakan semprit, air, atau alat untuk menyiapkan napza.
  • Gunakan semprit baru (yang diperoleh dari sumber-sumber yang dipercaya, misalnya apotek, atau melalui program pertukaran jarum suntikan) untuk mempersiapkan dan menyuntikkan narkoba.
  • Ketika mempersiapkan napza, gunakan air yang steril atau air bersih dari sumber yang dapat diandalkan.
  • Dengan menggunakan kapas pembersih beralkohol, bersihkan tempat yang akan disuntik sebelum penyuntikan dilakukan.

Bagaimana penularan dari ibu ke anak dapat dicegah?

Penularan HIV dari seorang ibu yang terinfeksi dapat terjadi selama masa kehamilan, selama proses persalinan atau setelah kelahiran melalui ASI. Tanpa adanya intervensi apapun, sekitar 15% sampai 30% ibu dengan infeksi HIV akan menularkan infeksi selama masa kehamilan dan proses persalinan. Pemberian air susu ibu meningkatkan risiko penularan sekitar 10-15%. Risiko ini tergantung pada faktor- faktor klinis dan bisa saja bervariasi tergantung dari pola dan lamanya masa menyusui.

Penularan dari Ibu ke Anak dapat dikurangi dengan cara berikut:

  • Pengobatan: Jelas bahwa pengobatan preventatif antiretroviral jangka pendek merupakan metode yang efektif dan layak untuk mencegah penularan HIV dari ibu ke anak. Ketika dikombinasikan dengan dukungan dan konseling makanan bayi, dan penggunaan metode pemberian makanan yang lebih aman, pengobatan ini dapat mengurangi risiko infeksi anak hingga setengahnya. Regimen ARV khususnya didasarkan pada nevirapine atau zidovudine. Nevirapine diberikan dalam satu dosis kepada ibu saat proses persalinan, dan dalam satu dosis kepada anak dalam waktu 72 jam setelah kelahiran. Zidovudine diketahui dapat menurunkan risiko penularan ketika diberikan kepada ibu dalam enam bulan terakhir masa kehamilan, dan melalui infus selama proses persalinan, dan kepada sang bayi selama enam minggu setelah kelahiran. Bahkan bila zidovudine diberikan di saat akhir kehamilan, atau sekitar saat masa persalinan, risiko penularan dapat dikurangi menjadi separuhnya. Secara umum, efektivitas regimen obat-obatan akan sirna bila bayi terus terpapar pada HIV melalui pemberian air susu ibu. Obat-obatan antiretroviral hendaknya hanya dipakai di bawah pengawasan medis.
  • Operasi Caesar: Operasi caesar merupakan prosedur pembedahan di mana bayi dilahirkan melalui sayatan pada dinding perut dan uterus ibunya. Dari jumlah bayi yang terinfeksi melalui penularan ibu ke anak, diyakini bahwa sekitar dua pertiga terinfeksi selama masa kehamilan dan sekitar saat persalinan. Proses persalinan melalui vagina dianggap lebih meningkatkan risiko penularan dari ibu ke anak, sementara operasi caesar telah menunjukkan kemungkinan terjadinya penurunan risiko. Kendatipun demikian, perlu dipertimbangkan juga faktor risiko yang dihadapi sang ibu.
  • Menghindari pemberian ASI: Risiko penularan dari ibu ke anak meningkat tatkala anak disusui. Walaupun ASI dianggap sebagai nutrisi yang terbaik bagi anak, bagi ibu penyandang HIV-positif, sangat dianjurkan untuk mengganti ASI dengan susu formula guna mengurangi risiko penularan terhadap anak. Namun demikian, ini hanya dianjurkan bila susu formula tersebut dapat memenuhi kebutuhan gizi anak, bila formula bayi itu dapat dibuat dalam kondisi yang higienis, dan bila biaya formula bayi itu terjangkau oleh keluarga.

Badan Kesehatan Dunia, WHO, membuat rekomendasi berikut:
Ketika makanan pengganti dapat diterima, layak, harganya terjangkau, berkesinambungan, dan aman, sangat dianjurkan bagi ibu yang terinfeksi HIV-positif untuk tidak menyusui bayinya. Bila sebaliknya, maka pemberian ASI eksklusif direkomendasikan pada bulan pertama kehidupan bayi dan hendaknya diputus sesegera mungkin.

Prosedur apakah yang harus ditempuh oleh seorang petugas kesehatan untuk mencegah penularan dalam setting perawatan kesehatan?

Para pekerja kesehatan hendaknya mengikuti Kewaspadaan Universal (Universal Precaution). Kewaspadaan Universal adalah panduan mengenai pengendalian infeksi yang dikembangkan untuk melindungi para pekerja di bidang kesehatan dan para pasiennya sehingga dapat terhindar dari berbagai penyakit yang disebarkan melalui darah dan cairan tubuh tertentu.

Kewaspadaan Universal meliputi:

  • Cara penanganan dan pembuangan barang-barang tajam (yakni barang-barang yang dapat menimbulkan sayatan atau luka tusukan, termasuk jarum, jarum hipodermik, pisau bedah dan benda tajam lainnya, pisau, perangkat infus, gergaji, remukan/pecahan kaca, dan paku);
  • Mencuci tangan dengan sabun dan air sebelum dan sesudah dilakukannya semua prosedur;
  • Menggunakan alat pelindung seperti sarung tangan, celemek, jubah, masker dan kacamata pelindung (goggles) saat harus bersentuhan langsung dengan darah dan cairan tubuh lainnya;
  • Melakukan desinfeksi instrumen kerja dan peralatan yang terkontaminasi;
  • Penanganan seprei kotor/bernoda secara tepat.

Selain itu, semua pekerja kesehatan harapnya berhati-hati dan waspada untuk mencegah terjadinya luka yang disebabkan oleh jarum, pisau bedah, dan instrumen atau peralatan yang tajam. Sesuai dengan Kewaspadaan Universal, darah dan cairan tubuh lain dari semua orang harus dianggap telah terinfeksi dengan HIV, tanpa memandang apakah status orang tersebut baru diduga atau sudah diketahui status HIV-nya.

Apa yang harus dilakukan bila anda menduga bahwa anda telah terekspos HIV?

Bila anda menduga bahwa anda telah terpapar HIV, anda hendaknya mendapatkan konseling dan melakukan testing/pemeriksaan HIV. Kewaspadaan hendaknya diambil guna mencegah penyebaran HIV kepada orang lain, seandainya anda benar terinfeksi HIV.

Penaggulangan masalah HIV/AIDS dan penularannya

Dimanakah HIV ditemukan?
HIV dapat ditemukan dalam cairan tubuh seperti darah, cairan semen, cairan vagina dan air susu ibu.

Bagaimanakah HIV ditularkan?

HIV ditularkan melalui seks penetratif (anal atau vaginal) dan oral seks; transfusi darah; pemakaian jarum suntik terkontaminasi secara bergantian dalam lingkungan perawatan kesehatan, dan melalui suntikan narkoba; dan melalui ibu ke anak, selama masa kehamilan, persalinan, dan menyusui.
  • Penularan Secara Seksual: HIV dapat ditularkan melalui seks penetratif yang tidak terlindungi. Sangat sulit untuk menentukan kemungkinan terjadinya infeksi melalui hubungan seks, kendatipun demikian diketahui bahwa risiko infeksi melalui seks vaginal umumnya tinggi. Penularan melalui seks anal dilaporkan memiliki risiko 10 kali lebih tinggi dari seks vaginal. Seseorang dengan infeksi menular seksual (IMS) yang tidak diobati, khususnya yang berkaitan dengan tukak/luka dan duh (cairan yang keluar dari tubuh) memiliki rata-rata 6-10 kali lebih tinggi kemungkinan untuk menularkan atau terjangkit HIV selama hubungan seksual. Dalam hal penularan HIV, seks oral dipandang sebagai kegiatan yang rendah risiko. Risiko dapat meningkat bila terdapat luka atau tukak di sekitar mulut dan jika ejakulasi terjadi di dalam mulut.
  • Penularan melalui pemakaian jarum suntik atau semprit secara bergantian: Menggunakan kembali atau memakai jarum atau semprit secara bergantian merupakan cara penularan HIV yang sangat efisien. Risiko penularan dapat diturunkan secara berarti di kalangan pengguna narkoba suntikan dengan penggunaan jarum dan semprit baru yang sekali pakai, atau dengan melakukan sterilisasi jarum yang tepat sebelum digunakan kembali. Penularan dalam lingkup perawatan kesehatan dapat dikurangi dengan adanya kepatuhan pekerja pelayanan kesehatan terhadap Kewaspadaan Universal (Universal Precautions).
  • Penularan dari Ibu ke Anak: HIV dapat ditularkan ke anak selama masa kehamilan, pada proses persalinan, dan saat menyusui. Pada umumnya, terdapat 15-30% risiko penularan dari ibu ke anak sebelum dan sesudah kelahiran. Sejumlah faktor dapat mempengaruhi risiko infeksi, khususnya jumlah virus (viral load) dari ibu pada saat kelahiran (semakin tinggi jumlah virus, semakin tinggi pula risikonya.). Penularan dari ibu ke anak setelah kelahiran dapat juga terjadi melalui pemberian air susu ibu.
  • Penularan melalui transfusi darah: Kemungkinan risiko terjangkit HIV melalui transfusi darah dan produk- produk darah yang terkontaminasi ternyata lebih tinggi (lebih dari 90%). Kendatipun demikian, penerapan standar keamanan darah menjamin penyediaan darah dan produk- produk darah yang aman, memadai dan berkualitas baik bagi semua pasien yang memerlukan transfusi. Keamanan darah meliputi skrining atas semua darah yang didonorkan guna mengecek HIV dan patogen lain yang dibawa darah, serta pemilihan donor yang cocok.


Bagaimana risiko terkena HIV dari berciuman?
Penularan melalui ciuman di mulut berisiko sangat rendah, dan belum ada bukti bahwa virus HIV dapat menyebar lewat air ludah karena berciuman.

Bagaimana risiko terkena HIV dari penindikan bagian tubuh atau tato?

Risiko penularan HIV terjadi bila alat yang digunakan terkontaminasi virus HIV dan tidak disterilkan terlebih dahulu atau digunakan secara bergantian dengan orang lain. Alat yang digunakan secara disuntikkan pada kulit hendaknya dipakai hanya satu kali, kemudian dibuang atau dicuci dan disterilkan secara seksama.

Bagaimana risiko terkena HIV dari berbagi alat cukur dengan seseorang yang terinfeksi HIV?
Segala jenis pelukaan dengan menggunakan benda yang tidak disterilkan, seperti silet atau pisau, dapat menularkan HIV. Memakai pencukur jenggot secara bergantian hendaknya dihindarkan, kecuali benda-benda tersebut disterilkan sepenuhnya sebelum digunakan.

Apakah berhubungan seks dengan seseorang penyandang HIV-positif aman dilakukan?

Selalu ada risiko penularan bila berhubungan seks dengan seseorang penyandang HIV-positif. Risiko dapat dikurangi secara signifikan bila kondom digunakan secara konsisten dan tepat.

Apakah aman bagi dua orang individu yang terinfeksi untuk secara eksklusif berhubungan seks tanpa perlindungan?

Tidak. Tidaklah aman bagi dua orang yang terinfeksi HIV untuk melakukan hubungan seks yang tak terlindungi karena adanya kemungkinan infeksi ulang dengan HIV tipe lain, dan kemungkinan menularnya infeksi menular seksual (IMS). Penggunaan kondom sangat disarankan ketika kedua pasangan terinfeksi.